Buat Indonesia 'Hijau' Lagi, Usaha Kita Merdeka dari Pandemi


Covid-19 (Corona Virus Disease-2019) dinyatakan sebagai wabah pandemi oleh WHO pada tanggal 9 Maret 2020. Terhitung setahun lebih dunia telah berada pada pandemi ini. Covid-19 bukan lagi menjadi suatu masalah di satu bagian negara, namun seluruh dunia merasakannya. Covid-19 merupakan world health tragedy dimana semua orang berjuang untuk menumpas virus ini, termasuk di Indonesia. 

Di Indonesia sendiri kasus pertama dikonfirmasi pada tanggal 2 Maret 2020. Setelah kasus pertama dan kedua, lalu muncul kasus-kasus berikutnya hingga saat ini. Virus Corona menyebar dengan mudah dan cepat melalui droplets manusia. Tak terelak, sampai hari ini puluhan ribu nyawa terenggut oleh senjata kecil bernama virus. Hari ini kita tidak sedang melawan tentara dengan senapan, namun melawan barang kecil dengan senjata ketaatan akan protokol kesehatan.

Yogyakarta tak luput dari sebaran virus. Kota yang ramai dengan pelajar dan wisatawan ini akhirnya harus ikut berjuang melawan. Banyak wisata dan tempat keramaian yang akhirnya membatasi pengunjung, bahkan menutupnya. Terhitung sampai 9 Agustus 2021, kasus Covid di Yogyakarta bertambah sejumlah 1.194 kasus. Di daerah saya sendiri, yaitu di pedesaan Gunungkidul, kasus mulai naik karena mobilitas masyarakat yang sebagian harus bekerja keluar desa. Selain karena mobilitas, penyebaran virus yang makin cepat diakibatkan oleh masuknya varian virus baru, yaitu varian Delta.


Pandemi Covid-19 tidak hanya menyerang fisik, namun juga mental. Mental manusia mulai lelah dengan keterbatasan, susahnya bersosialisasi, stress karena setiap hari mendengar kabar duka, dan tekanan mental lainnya. Secara ekonomi, masyarakat juga sedang ada dalam fase yang tidak baik-baik saja ; banyaknya karyawan yang mengalami dampak pengurangan tenaga kerja, sepinya toko dan pasar yang mengakibatkan rendahnya daya beli membuat perputaran ekonomi rendah. Sederhananya, efek dari pandemi ini bersifat domino. Saling menyenggol satu sama lain. Apalagi Yogyakarta yang merupakan wilayah wisata dan banyak masyarakatnya mengandalkan pendapatan dari sektor tersebut juga mengalami keterpurukan yang serupa. Tukang becak, toko -oleh-oleh, agen perjalanan, dan pekerja tempat wisata mulai banting stir ke kegiatan lain yang bisa mencukupi kehidupan mereka. 

Lalu, sampai kapan kita harus berjuang di masa ini?

Kapan pandemi berakhir adalah pertanyaan yang tidak bisa dijawab pasti, namun bisa kita diusahakan. Pandemi ini kita analogikan sebagai badai laut dan masyarakat adalah orang-orang yang berada diatas satu kapal. Kita sedang dalam satu kapal yang mempunyai misi untuk selamat. Ketika kita sedang menghadapi satu masalah besar maka bersatu adalah pilihannya. Tidak perlu lagi membeda-bedakan agama, suku, ras, kepercayaan, dan cara. Pada intinya kita adalah tim dan misi kita adalah selamat. Yang sedang kita hadapi saat ini seharusnya juga begitu. Setiap orang harus mau bekerjasama sebagai bagian dari tim, mulai dari menaati protokol kesehatan, saling bantu-membantu, dan saling menguatkan satu sama lain.

Tes, Lacak, dan Dapatkan Vaksin Segera!

Covid-19 bukanlah aib. Jika mengalami gejala-gejala yang mengarah ke Covid, maka sebaiknya lekas kita lakukan tes. Tes bisa dilakukan secara mandiri ke rumah sakit atau dengan bantuan Puskesmas. Setelah tes, kita bantu lacak orang-orang yang berhubungan erat dengan kita selama beberapa hari terakhir. Jangan lupa segera dapatkan akses vaksinasi bagi yang sehat dan tidak ada kendala dan 90 hari pasca sembuh bagi yang mengalami Covid-19. Untuk saat ini tidak perlu memilih-milih tipe vaksin apa yang harus kita dapatkan. Segera dapatkan vaksin! Saat ini di level desa pun sudah tersedia vaksin dengan mendaftar terlebih dahulu dan diselenggarakan Puskesmas terdekat. Vaksin adalah cara terbaik kita untuk mencegah tertularnya Covid-19. Harapannya, setelah banyak dari masyarakat yang telah tervaksin dan antibodi terbentuk, maka terbentuklah herd immunity.


Perjuangan Kita Terus Berlanjut, Siapkan Strategi Untuk Indonesia Merdeka Pandemi


  • Bersatu dan Berkolaborasi

Saya pernah membaca sebuah quote 'no matter what divide us, gratitude for health is one thing we all have in common'. Kesehatan adalah barang mewah dan yang menyatukan kita saat ini. Untuk mencapainya kita membutuhnya kolaborasi dan strategi. Kolaborasi antara pemerintah dan semua elemen masyarakat adalah strategi kita untuk mencapai tujuannya. Tujuannya adalah menekan angka positif covid menjadi lebih rendah. Kolaborasi adalah gerakan dua arah dan saling membantu. Kebijakan pemerintah yang membantu masyarakat dan masyarakat yang taat akan kebijakan adalah dua hal yang kita butuhkan saat ini. Berbagai manuver seperti PSBB, PPKM, dan pembatasan-pembatasan lainnya mulai diberlakukan. Tak jarang menuai pro dan kontra. Dampak positif dan negatif dari semua kebijakan bisa menjadi koreksi untuk kebijakan-kebijakan selanjutnya. Karena masyarakat adalah penumpang dan pemerintah adalah awak kapal, maka sudah seharusnya saling membantu dan mengupayakan, bukan? Kami berharap segala kebijakan yang dibuat oleh nahkoda selalu berpihak baik pada msyarakat.

  • Keoptimisan : Bangun Kesehatan Mental Selama Pandemi

Selain strategi kolaborasi untuk menaati protokol kesehatan secara fisik, kita juga harus membangun kesehatan mental. Percaya bahwa badai akan berlalu. Membangun confident akan masa depan yang akan kembali pulih tak kalah penting. Membangun semangat satu sama lain bahwa kita mampu melaluinya. Belum lama ini saya melihat twibbon beredar di status-status whatsapp masyarakat Yogyakarta dengan tajuk Ayo Gawe Jogja Ijo. Kampanye ini dilakukan dengan tujuan menyemangati dan membangun percaya diri kawasan Yogyakarta agar bisa menjadi zona hijau mengingat saat ini masih menjadi zona merah. Kita semua pasti berharap, bukan hanya Jogja yang hijau, namun seluruh wilayah bisa kembali hijau dari kasus merah yang terjadi di Indonesia ini.

  • Beradaptasi dalam Era Kebiasaan Baru

Hari ini kita tidak ada pilihan lain selain beradaptasi mengingat kita hidup di ketidakpastian kapan pandemi ini akan benar-benar berakhir. Regulasi adaptasi kebiasaan baru  (new normal) mulai disosialisasikan. New normal akan menjadi culture shock untuk banyak orang. Biasanya orang-orang bisa berkumpul di kafe dine-in, kali ini harus memilih untuk take-away. Biasanya kita dengan bebas menggelar seminar offline, kali ini harus online. Adaptasi tidak selalu mudah, tapi pilihan ini adalah yang terbaik. 

  • Akses Informasi dengan Bijak, Jangan Percaya Hoax!
Salah satu masalah yang terjadi di era pandemi ini adalah banyaknya informasi yang tersebar. Berita yang terlalu banyak ini seringkali membuat kita bingung mana yang benar atau salah. Apalagi berita dan tips palsu banyak beredar di grup-grup whatsapp. Berita hoax seringkali menjadi racun dan menjadi kendala kesuksesan kita untuk segera keluar dari bencana pandemi. Oleh karenanya, akses berita dari platform dan situs-situs terpercaya. Akun @kominfodiy merupakan salah satu akun yang sering menumpas berita-berita hoax dan menyebarkannya melalui akun instagram.

Nakes : Pahlawan di Garda Terdepan Sebuah Peperangan


Ibarat sebuah peperangan, tenaga medis yang kita sebut sebagai nakes adalah garda terdepannya. Bagaimana tidak? Mereka harus stand-by dan bertemu dengan penyintas covid setiap harinya. Virus dekat dengan diri mereka. Resiko terburuknya, bisa saja virus menghampiri dirinya. Kala pandemi ini, merekalah pejuang-pejuang kita yang mengusahakan kemerdekaan untuk kita semua. Pahlawan-pahlawan tangguh dengan senapan kesabaran dan ketelatenan layak mendapatkan apresiasi besar dari kita semua. 400-an dokter dan ratusan nakes telah gugur di peperangan ini (sumber : kompas.com). Kerjasama yang baik kita semua untuk menekan resiko covid membuat beban mereka terkurangi. Kolapsnya rumah sakit dan tenaga kesehatan adalah renungan untuk kita bahwa covid bukanlah sebuah aliran kepercayaan dimana kamu bisa percaya atau tidak. Covid adalah tragedi kesehatan yang nyata dan harus kita perangi bersama.

Semangat Teamwork Untuk Buat Indonesia 'Hijau' Merdeka dari Pandemi


Seperti penjelasan sebelumnya, kita ibarat diatas kapal yang sedang menghadapi sebuah badai. Karena tujuan kita sama untuk selamat, maka sudah seharusnya kita bekerja layaknya sebuah tim. Tim yang baik adalah tim yang bisa bekerjasama tanpa melihat perbedaan apapun. Tolong-menolong adalah kita. Seperti yang kita lihat saat ini banyak orang bersemangat untuk saling berbagi informasi tentang tips meningkatkan imun, lokasi shelter isoman terdekat, bahkan berbagi makanan dan suplemen untuk rekan-rekan yang sedang isoman di rumah. 

Mengingat 17 Agustus kita tidak bisa melakukan upacara dan bersorak seperti tahun-tahun sebelum pandemi, maka kita harus punya semangat yang sama dengan cara yang lain. Tema tujuh-belasan tahun ini adalah Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh. Semangat merdeka kita harus tetap membara bak pahlawan-pahlawan tangguh kita yang memperjuangkan kemerdekaan. Kemerdekaan kita adalah bisa keluar dari pandemi agar kita lekas bisa bersua, berkumpul, berkarya, dan bersuka-cita dengan perjuangan yang telah kita lalui saat ini. Cara memperjuangkannya yaitu dengan bekerjasama untuk menjaga imunitas, menaati protokol kesehatan, tidak berkerumun, tidak bepergian dengan resiko besar, dan sukseskan vaksinasi.Ayo kita buat Indonesia menjadi zona hijau, zona bebas corona. 



_____________

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Pembuatan Konten Media Sosial dalam rangka Memperingati HUT RI ke-76 dengan tema Merdeka dari Pandemi : Bersatu dalam Keberagaman untuk Indonesia Bangkit yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika DIY


Referensi 

https://corona.jogjaprov.go.id/

https://diskominfo.jogjaprov.go.id/

https://corona.jogjakota.go.id/web_article/index/563

https://www.oecd.org/coronavirus/en/

https://megapolitan.kompas.com/read/2021/03/02/05300081/kilas-balik-kronologi-munculnya-kasus-pertama-covid-19-di-indonesia?page=all


1 komentar

  1. Keren banget tulisannya, informatif 😍. Semoga covid lekas menghilang, yuk semangat2 kita pasti bisa. (Btw suka banget sama ilustrasi nya wkwk)

    BalasHapus