Saat Hamil, Cegah Anemia Defisiensi Besi dengan Konsumsi Asupan Kaya Zat Besi

Kehamilan pertamaku memberiku banyak sekali pelajaran baru. Salah satunya meluruhkan ego bahwa sekarang semua bukan tentang aku, tapi juga anakku dan generasiku. Aku ingin memberikan nutrisi yang terbaik untuk diriku dan janin. Semata-mata agar ia tumbuh menjadi generasi yang sehat dan cerdas. Jalan satu-satunya untuk memberikan nutrisi yang baik untuk janin selama kehamilan adalah melalui apa-apa yang dikonsumsi olehku. Oleh karena itu dari awal kehamilan aku banyak bertanya kepada dokter, bidan, dan orang-orang di sekitar tentang asupan dan nutrisi apa yang harus aku konsumsi agar kehamilanku sehat, baik untuk ibu dan janin.


Beberapa hal yang harus ibu hamil pertimbangkan adalah asupan nutrisi yang seimbang. Aku banyak mempelajari tentang nutrisi yang seimbang itu sendiri ; kecukupan asam folat, zat-zat yang dapat menghambat penyakit pada ibu dan janin, dsb Sekarang aku sudah tidak bisa sembarangan makan. Misalnya asal-asalan makan dengan apa yang ku mau saja, namun juga harus lebih mempertimbangkan apakah makanan hari ini sudah mencukupi nutrisi yang aku butuhkan. Salah nutrisi yang aku perhatikan adalah Zat Besi. Zat Besi sendiri merupakan mikronutrient, yaitu zat makanan yang dibutuhkan oleh tubuh meskipun jumlahnya sedikit namun sangat penting. Jika tidak terpenuhi, kekurangan zat besi dapat mengakibatkan Anemia Defisiensi Besi. Nah, sebenarnya apa sih Anemia Defisiensi Besi itu?


 Anemia Defisiensi Besi : Pengertian, Gejala, dan Dampaknya Untuk Ibu Hamil


 Anemia merupakan suatu kondisi rendahnya kadar Hb dibandingkan dengan kadar normal yang menunjukkan kurangnya sel darah merah yang bersirkulasi. Anemia Defisiensi Besi merupakan anemia yang diakibatkan karena kekurangan zat besi. Hal ini dikarenakan permintaan tubuh akan zat besi bertambah secara signifikan. Jumlah zat besi harian yang direkomendasikan untuk dikonsumsi ibu hamil sejumlah 27 mg yang dapat ditemukan pada kebanyakan suplemen vitamin untuk ibu hamil. Zat besi sangat penting untuk membuat hemoglobin, protein didalam sel darah merah yang membawa oksigen ke sel lainnya (sumber : ibupedia). Menurut data dari Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2018 anemia pada ibu hamil meningkat dari tahun 2013 ke 2018 dari 37.1 ke 48.9. Kenaikan kasus ini merupakan angka yang harus diturunkan karena dampaknya yang tidak hanya buruk untuk ibu hamil, namun juga terhadap generasinya. 


 Gejala anemia antara lain ; kelopak mata pucat, kulit pucat, nafas cepat/sesak nafas, kelemahan otot, sakit kepala, tekanan darah rendah, nadi cepat, dan pembesaran limpa. Sedangkan secara spesifik, gejala anemia pada ibu hamil antara lain ; kurang nafsu makan, lesu dan lemah, sering pusing, dan mata berkunang-kunang. Karena kurangnya kadar sirkulasi oksigen yang mengalir di sel darah merah kita, otomatis ibu akan merasa lemas dan gejala-gejala diatas menjadi alarm-nya. 


Anemia pada kehamilan memiliki dampak seperti pre-eklamsia, infeksi, pendarahan pasca melahirkan, gangguan fungsi jantung, gangguan pertumbuhan janin, dan juga kelahiran bayi prematur. Tentunya kita semua ingin kehamilan yang sehat kan, Bun? Oleh karena itu kita bisa cegah anemia dengan memastikan asupan zat besi kita tercukupi.


 Anemia Defisiensi Besi Merupakan Tantangan Lintas Generasi


Anemia Defisiensi Besi bukan hanya tantangan pada segmen umur tertentu, namun tantangan lintas generasi. Bisa dialami siapa saja ; mulai dari bayi, balita, remaja usia produktif, anak sekolah, ibu hamil, bahkan sampai lansia. Jika kita tidak mencegahnya maka masalah gizi ini akan terus menjadi masalah serius. Misalnya saja ada seorang remaja produktif mengalami anemia, ketika dia hamil dan juga kekurangan zat besi maka akan mengalami gejala dan dampak seperti yang sudah dijelaskan di bagian sebelumnya. Lalu resikonya dia akan melahirkan bayi yang juga malnutrisi. Anemia pada remaja diakibatkan oleh kompetisi nutrisi antara memenuhi kebutuhan perkembangan remaja dan perkembangan janin. Tantangan lintas generasi ini tentunya menjadi tugas kita bersama untuk memotong rantainya.


 Jalan Ninja Memotong Rantai Resiko Anemia Defisiensi Besi


  • Konsumsi Asupan Bernutrisi Besi

Salah satu penyebab terjadinya Anemia Defisiensi Besi (ADB) adalah kurangnya asupan makanan yang mengandung zat besi. Zat besi merupakan nutrisi mikronutrient. Meskipun kebutuhannya tidak sebanyak makronutrient namun perannya sangat penting untuk tubuh kita. Aku banyak mempelajari tentang resiko bayi yang dilahirkan dari ibu yang mengalami ADB. Beberapa diantaranya adalah gangguan pertumbuhan dan juga IQ bayi rendah. Oleh karena itu asupan bernutrisi kini jadi salah satu fokusku. Mulai kehamilan bulan ke-7, dokter juga mulai memberi vitamin khusus yang mengandung zat besi untuk kandunganku.

 "Lalu jenis makanan apa yang kaya akan zat besi?"



Nah, makanan yang mengandung zat besi dibagi menjadi dua, yaitu heme dan non heme. Heme adalah asupan yang berasal dari hemoglobin hewan, sedangkan non-heme adalah asupan yang berasal dari tumbuhan. Sumber makanan heme bisa berasal dari hati ayam, daging yang berwarna merah, dan ikan salmon. Sedangkan makanan non-heme bisa berasal dari bayam, wortel, kangkung, brokoli, tahu, tempe, daun singkong, dsb. Sumber-sumber makanan kaya zat besi tersebut sangat mudah ditemukan di sekeliling kita dan sangat familiar di dapur kita. Oleh karenanya sebenarnya tidak sulit untuk memenuhi asupan zat besi asal kita mau dan tidak terlalu pemilih. 


  • Maksimalkan Penyerapan Zat Besi dengan Vitamin C

Vitamin C merupakan nutrisi yang dapat meningkatkan penyerapan zat besi sehingga lebih banyak zat besi yang dapat diserap oleh saluran cerna. Beberapa makanan sumber vitamin C diantaranya jambu biji, cabai, kiwi, strawberi, jeruk, tomat, dsb. Sumber-sumber diatas sangat mudah kita temukan dan konsumsi. Jadi, perhatikan juga nutrisi untuk membuat zat besi menyerap maksimal ya, Bun. Kita happy, janin pun happy. Kita sehat, janin pun sehat.


  • Hindari Konsumsi Sumber Penghambat Penyerapan Zat Besi 

Setelah kita memaksimalkan penyerapannya, maka kita juga harus mengurangi penghambatnya. Penghambat penyerapan zat besi (terutama non-heme) diantaranya fitat, tanin, polifenol, kalsium, dan seng. Nah, yang paling berat untuk aku salah satunya adalah teh. Ternyata teh merupakan salah satu penghambat yang ada di dalam teh yang disebut tanin. Tanin merupakan kelompok senyawa yang masuk dalam golongan polifenol. Selain teh, kopi juga mengandung tanin. Lalu, apakah ibu hamil tidak boleh meminum teh dan kopi? Boleh-boleh saja, namun harus dibatasi mengingat konsumsinya dapat menghambat penyerapan zat besi. 

Setiap bulan ibu hamil selalu dijadwalkan pergi ke faskes (bidan/dokter) untuk pengecekan rutin kandungan. Sebaiknya selalu konsultasikan masalah kehamilan termasuk nutrisi ke tenaga yang sudah ahli di bidangnya, sehingga kita mendapat arahan dari orang yang tepat. Tidak dipungkiri selama hamil pasti ada saja mitos-mitos dan anjuran yang kadang tidak logis. Misalnya saja tidak boleh makan hati ayam, padahal hati ayam kaya akan zat besi. Selain itu juga konsumsi rutin vitamin yang sudah direkomendasikan oleh mereka agar kehamilan kita sehat dan kuat, baik untuk diri kita sendiri dan bayi yang akan kita lahirkan. Jangan lupa juga untuk mencari informasi dari situs terpercaya. Aku banyak mendapatkan pengetahuan baru dari ibupedia. Bagaimana dengan kamu?


Referensi :

Hanindita, Meta. Tanya Jawab Tentang Nutrisi di 1000 Hari Pertama Kehidupan Anak. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

https://www.ibupedia.com/artikel/kehamilan/waspadai-anemia-defisiensi-zat-besi-saat-hamil

  _____

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Ibupedia atas nama Anisa Nuha

Tulisan dan visual merupakan kepemilikan pribadi dari anisanuha.com

  

Tidak ada komentar