2. A Journey To Be A Wife

 Maret 2020


Setahun setelah aku mengiyakan tawaran masnya akhirnya aku dilamar. Rasanya? Biasa aja. Meskipun ada deg-degannya, tapi gak sesendu yang aku bayangkan. Selama ini setiap lihat video lamaran orang atau melihat langsung tuh hati mendadak baper. Suka tiba-tiba nangis. Dan ternyata pas aku sendiri yang dilamar, rasanya cuma legaaa dan bersyukur (gak pake nangis). Merasa terharu gituloh di cincinku ada ukiran nama dia. Ahahaha. Lebay!

Hari-hari setelah itu bukanlah hari yang menyenangkan. Ujian dan ujian selalu ada-ada aja dan berupa hal-hal yang jarang kita duga, salah satunya adalah perasaan ragu. Selain ragu juga ada rasa takut. Banyak ketakutan yang menjadi-jadi setelah lamaran. Banyak bayangan-bayangan buruk yang selalu hadir di benak aku, tapi gak buat calon suamiku. Dia selalu bilang bayangan itu gak pernah ada dibenaknya. Semua akan baik-baik aja.

Pernah suatu ketika sebelum lamaran tiba, kami bertengkar hebat. Bertengkar bukan karena orang ketiga atau masalah yang berarti gitu. Masalahnya hanya ada di perasaan takutku sendiri. Selalu merasa takut ketika menikah nanti akan jadi tidak baik-baik saja, merasa kalau menikah nanti aku sudah tidak bisa menjadi diriku sendiri, merasa kalau menikah nanti semua terbatas. Pokoknya waktu itu aku pengen kami putus dan hilangin bayangan bahwa sebentar lagi aku akan menikah. Tapi setelah perdebatan itu, dia datang ke rumah dan bilang,"Nikah itu bukan cuma kamu yang jalanin. Gak usah takut. Ada aku." ((Berasa sinetron banget gaaaakk?)) HAHAHA. Tapi dari kata dia itu aku jadi refleksi sama diriku sendiri : mungkin karena selama ini aku terbiasa ngapa-ngapain sendiri jadi aku overthink seolah-olah if marriage is a problem, it's all totally mine. Aku belum punya pandangan bahwa this is ours, we are as husband and wife.

Kekalutan pikiran gak sampe situ. Termasuk mimpiku untuk berkarir atau S2 dulu. Aku jadi semakin menyalahkan keadaan bahwa dia datang terlalu cepat. Kenapa aku seperti dikejar waktu. Kenapa harus sekarang. Tapi, bukankah semua yang terjadi hari ini jawabannya bisa jadi besok atau lusa, bahkan bisa jadi beberapa tahun kemudian. Lagi-lagi banyak faktor yang mendorongku untuk tetap fokus melaksanakan akad, salah satunya orangtua.

Setiap aku pengen banget menunda pernikahan kami, masnya selalu bilang,"Masa kita mau kaya gini terus?". Itu yang membuat aku selalu berfikir kembali, kenapa aku harus mengulur waktu?

Juni 2020

Tepat H-1 sebelum ramadhan tahun ini kami mulai mengurus berkas untuk pernikahan. Karena kala itu sudah dinyatakan pandemi, maka proses pun cukup terulur. Sebulan tidak ada kabar sampai akhirnya setelah lebaran kami memastikan ke KUA. Awalnya memang rencana pernikahan itu di bulan Syawal, tapi karena gak ada kepastian jadi habis lebaran itu malah masih santai-santai aja. Pas ke KUA akhirnya kami mendapatkan tanggal akad di H+8 setelah itu. Gak usah ditanya gimana keadaannya. Pokoknya riweuh. Tapi untungnya beberapa detail seperti mas kawin, dress, jas, dsb sudah kami siapkan jauh-jauh hari. Lumayan gak menguras buanyak tenaga karena pernikahan hanya dilaksanakan di KUA.

Pagi itu suasana cerah. Aku sudah memakai gaun putih sederhana dan polesan make up yang request-ku sederhana tapi ternyata bagiku kurang simple untuk aku yang suka insecure kalau menor dikit. Rumah sudah dipenuhi beberapa kerabat dekat. Namun yang ke KUA hanya terbatas saja karena masih mematuhi protokol yang berlaku. 

Ternyata hari itu, 12 Juni 2020 aku akan jadi istri orang. I am totally Mas Abi's.

Suasana lega, haru, dan awkward pas harus salim ala suami istri masih nempel di bayanganku. Apalagi Mas yang cengkeram tangan aku dan natap aku kaya dia lagi salaman sama Pevita Pearce. Spicless. Dunia harus tau deh hari itu aku oficially istri orang yang siap dirasani kalau gak kepeneran.

September 2020


Hari-hari menuju ulangtahunku yang ke 24. Kemarin masih suka berbangga diri dengan setelan muka dewasa ini umurku masih 23. Tapi tahun ini tidak. Aku harus mengakui bahwa umurku sudah 24. Bulan dimana resepsi kami digelar. Hari ramai yang sebenarnya kami pun gak terlalu expect tapi alhamdulilllah terlaksana dengan baik dan ramai. Di tengah pandemi ini tentunya banyak sekali penyesuaian. Secara teknis gak akan aku ceritakan disini ya karena sudah banyak nulis di instagram. Intinya hari itu riuh, namun juga melelahkan. Karena apa? 

Karena to be continued....


Tidak ada komentar