1. Suatu Sore di Bulan Maret

Add caption

Di ulangtahunku yang ke-20, aku pernah mengatakan kepada diriku sendiri bahwa akan banyak hal besar terjadi dalam hidupku dalam satu dekade ke depan. Lulus S1, mungkin meneruskan S2, menikah, mungkin mempunyai anak, membangun karir, dst.  Padahal saat itu, bayangaku  untuk menikah akan terjadi di usia mendekati 30. Tetapi ternyata bayanganku salah. 

Manusia hanya bisa berencana dan mengawang-awang, namun Allah-lah yang tahu apa yang terbaik untuk hambaNya.

Siapa sangka, 3 tahun kemudian aku resmi menjadi seorang istri. Kejadian yang sangat bikin kaget diriku sendiri. Bisa dibilang hari-hariku setelah patah hati itu bikin aku merasa gak mungkin untuk bisa menikah di waktu yang cepat. Proses menerima orang lain, mengenalinya, lalu memutuskan untuk menikah bukankah membutuhkan waktu yang lama? Begitu pikirku waktu itu.

2018 akhir aku lulus S-1. Setelah itu melanjutkan magang dari awal 2019-akhir. Setelah itu rencanaku ingin melanjutkan S2 lalu apply di perusahaan atau merintis usaha sendiri. Sukses dan mandiri. Bergaji cukup untuk menghidupi kehidupanku sendiri dan orang lain. Definisi sukses menurut aku saat itu ; muda, berpenghasilan, dan mapan plus berpendidikan. 

Februari 2019

Saat itu aku masih magang. Untuk menambah pengalaman aku ikut sebuah komunitas bisnis. Seru.  Karena mengenal hal baru. Singkat cerita saat itu aku ditugaskan untuk menjadi penganggungjawab untuk kebutuhan banner, flyer, dsb. Pada fase-fase itu jujur aku sedang dekat dengan beberapa cowok. Dekat yang sekedar dekat aja karena aku bener-bener takut buat memulai. Gak ada perasaan cinta, pengen punya pacar, apalagi menikah. Tapi aku pas lagi buntu mau minta tolong ke siapa, tiba-tiiba aku inget punya kenalan lewat sosial media yang katanya kerja jadi Graphic Designer. Siapa coba yang gak mau memanfaatkan kesempatan ini. Aku chat masnya basa-basi,"Berarti bisa dong mas saya minta tolong desain kapan-kapan." Ternyata masnya (yang aku anggap pendiam dan cupu) dengan sukarela mengerjakan tugasku. Beberapa kali minta tolong hanya lewat WA, akhirnya karena desainnya agak ribet masnya minta ketemuan aja diatas jam 5 sore. Sebagai anak mami yang agak takut pulang kemaleman akhirnya ku-iya-kan aja permintaannya. Meskipun harus diatas jam 5 sore. Meskipun aku kerjanya di selatan, dia di utara. Jalan tengah yang kita pilih untuk ketemu saat itu di Ambarrukmo Plaza. Tepatnya di J.Co. 

Pertemuan pertama itu ya sekedar ngobrol untuk desain. Gak ngomong yang ada diluar itu. Lebih banyak aku yang ngomong. Ya intinya masnya gak asik. Terus pulang. Dada dadaaa. Udah deh gak ada perasaan gimana-gimana. (Gimana mau baper, wong karakter masnya ini gak sesuai sama kriteria aku huft)

Tapi mungkin masnya udah klepek-klepek sama traktiran kopiku. Semenjak itu malah jadi lebih intens. Lebih sering ketemu ; tepatnya ketemu untuk makan siang bareng. Lebih sering komunikasi. Jadilah aku juga yang sudah lama gak deg-degan sama cowok ini jadi mikir-mikir "Ini kayanya masnya beneran suka sama aku, deh."

Setiap aku makan, dia suka liatin aku. Ya risih sih untuk aku yang kalo sayang sama orang gak komunikatif haha. Ta..ta..pi jadi pengalaman baru gituloh ini masnya nggriseni tapi kok gemas wkwk. 

Tapi sebenarnya aku jadi lebih perhatian ke mas ini gak sekilat itu juga. Karena saat itu aku sempet punya pikiran jahat buat jauhin dia pas kerjaan udah kelar. Jadi literally dekat hanya karena urusan desain ini.

Hari berganti hari, kok sepertinya masnya ini cupu tapi bikin sayang juga. Tapi dia kan pendiem gitu, gak asik. Yah gimana, dong? Padahal habis ketemu pertama kali itu aku masih inget banget chat salah satu sahabat aku "Gak deh. Blacklist." WKWKWK. Karena sikap masnya yang hooh ini, aku mengungkapkan kegalauanku ke beberapa orang terdekat, yaitu Ibu dan Bulikku. Respon Ibu pertama,"Gak lah kalo anak band. Coba tanya Bapak pasti gak boleh." Tapi respon bulikku kali itu berbeda,"Mending sama mas yang kamu anggap culun ini deh, Mbak". Culun disini bukan penampilannya ya, tapi first impressionku ke mas ini kan dari awal pas face to face gak banyak omong dan terkesan pemalu, berbanding balik sama aku yang gak bisa stop kalo ngomong.

Ikhtiar masnya aku iyakan. Aku kenali lebih dalam deh barangkali masnya baik. Meskipun dari segi latar belakang masing-masing kami ini bertabrakan sekali. Aku yang sukanya sama anak akademis, tiba-tiba dapet masnya yang kaya gini haha. Aku yang anaknya lempeng-lempeng aja, dapet masnya yang agak nyeni. Aku yang lulusan pesantren dapet masnya yang hobi ngeband. Sudah otomatis circle pergaulan kami berdua juga beda sekali. Kadang-kadang takut gak nyambung, tapi kalau udah cinta mah apa-apa disambung-sambungin gak sih hahahaha.

Maret 2019

(dari kiri atas, kanan atas, kiri bawah, kiri kanan)

Selfie pertama (sebelum jadian), Ngopi pertama di Malioboro Mall (udah jadian), Selfie selanjutnya (belum jadian), Update di IGs tapi kakinya aja soalnya masih rahasia wakaka
Maaf masih dekil-dekil ketemuannya habis kerja semua.

Sebulan berlalu, meskipun hanya dengan modal beberapa kali pertemuan, aku memberanikan diri untuk bertanya. Gila! Butuh nyali, loh. Tapi kalo gak gitu adanya cuma galau dan bertanya-tanya. Nih masnya beneran gak ya? Sore itu, tepatnya aku lupa kita mau kemana, motoran berdua keliling Jogja bagian utara. Terus aku bilang,"Mas kalau kita bukan apa-apa berarti kalau aku deket sama cowok lain kamu gak hak buat cemburu dong ya..." Terus masnya baru nembak wkwk terus aku bilang iya, gak lama tanya,"Kamu mau nikah sama aku, kan?" Coba kurang so sweet apa adegan kita boncengan motor berdua sore-sore ini dengan pertanyaan se deep ini. Aku bilang,"Iya.Aku mau."

Jawaban sore itu bikin aku makin mikir lagi. Aku bilang iya berarti aku udah komit dong ya untuk bener-bener serius sama masnya. Udah gak nakal-nakal lagi meskipun ada nakal sedikitnya hehe. Cuma aku jadi prepare bahwa ini masnya udah pegang omongan aku dan aku harus tepati itu.

--

Jarak pertama kali bertemu sampai jadian hanya butuh waktu satu bulan. Singkat, tapi kala itu terasa lama sekali. Untuk pertama kali juga kala itu kita komitmen untuk nabung bareng dan mulai banyak ngobrol tentang nikahan dan gimana hidup setelah pernikahan.

Sebenarnya komitmen kami untuk menikah saat itu menunggu aku di umur 25 (sesuai life goals-ku), lalu dinegoisasi sampai aku lulus S2, lalu nego kembali di akhir tahun 2020 (tentunya dengan perdebatan panjang), dan berakhir di awal 2020 :). Life is so unpredictable gais.

Suatu hari aku pernah cerita sama sahabat aku Dani. Kurang lebih,"Value hidup kita mungkin akan berubah nanti ketika umur kita udah 40-an. Gak kaya sekarang dan kayaknya value dia tuh yang aku butuhkan untuk kehidupan aku ke depan." Saat ini value kehidupan kita mungkin pengakuan, uang, dsb, tapi mungkin nantii aku hanya butuh untuk merasa cukup. Dan sepertinya cukup petualanganku mencari sampai di masnya. Ah shiaappppp....

Entah bagaimana cerita kami nanti ke depannya, yang penting skrg kita appreciate the present dan mensyukuri bahwa apa-apa yang sudah direncanakan Allah adalah yang terbaik.

...to be contunued.



 

































Tidak ada komentar