Jurnal : Jangan Khawatir, Amatir Lebih Baik Daripada Mung Ndomblong

Sebagai orang yang self-proclaimed as a blogger (didasari kalau punya blog ya sudah anggap saja blogger) meskipun hanya amatiran, menurut saya ini adalah suatu langkah yang amat kewanen. Tapi bagi saya ya lebih baik amatir daripada mung ndomblong.

Oke. Mari kita mulai obrolannya...

Semenjak saya lumayan aktif menulis dan merubah domain menjadi .com, teman-teman dan kollowers saya mulai notice bahwa saya adalah blogger. Terlepas dari blogger amatiran atau professional, orang-orang akan menganggap saya blogger yang hobi nulis dan pinter bikin konten. Bahkan, dari hobi saya yang hobi mbacot nulis di blog/instastory, saya di-hire seorang teman untuk menuliskan caption di lapak miliknya.

Embel-embel saya sebagai blogger ini akhirnya dikuatkan atas pencapaian tahun lalu dalam beberapa lomba blog. Alhamdulillah, blogger tenanan batinku. Meskipun ya DA/PA saya tentunya tidak setinggi blogger-blogger yang memang niat. 

Jadi sebenarnya saya ini apa?

Anggap saja manusia yang kalau lagi pengen nulis panjang, dia nulisnya di blog. Kurang lebih seperti itu.

Saya bersyukur, adanya blog ini saya jadi lebih diakui kemampuan nulisnya. Karena bagi saya dulu, di era yang belum digital-digital amat, pembuktian atas tulisan itu sepertinya harus dituangkan dalam bentuk buku secara fisik. Sekarang, bahkan nulis cuap-cuap di instastory kalau itu bagus dan ngena di hati pembaca saja, saya sudah bisa dianggap orang sebagai orang yang jago nulis. Thanks 4.0!

______

Awal 2020, saya udah mulai ge-er nih. Kayanya uang dari nge-blog saya akan meningkat. Lomba-lomba akan semakin banyak. Tapi nyatanya? Sampai detik ini masih Rp. 0. Hiks.

Tapi...tiba-tiba ada satu tawaran datang. Untuk jadi apa? Pembicara sebagai blogger.
Awalnya saya mikir "Haduh, saya mau share apa ya? Malu. Takut dirasani sama yang lebih senior. Ndak kesannya sok tau banget sama dunia ini."
Tapi pikiran itu akhirnya saya buang dan berubah "Yaudah deh gapapa. Percobaan. Daripada engga. Nanti aku persiapkan dengan sebaik-baiknya."

Hari itu saya sharing tentang pengalaman saya menulis. Berawal dari hobi menulis dulu baru blogging. Saya bilang maksimalkan kualitas konten sambil berjalan dulu, jangan ujug-ujug mikir cuan. Padahal kualitas konten saya ya embuh. Balik lagi ke prinsip awal 'Amatir Lebih Baik Daripada Mung Ndomblong'.



Hari itu pertama kalinya saya diundang menjadi pembicara. Di beberapa kesempatan biasanya saya jadi MC atau Moderator. Deg-deg an tapi lama-lama malah menikmati. Oh begini ya rasanya? Ternyata asik banget kalau energi kita disalurkan dan happy melihat antusias audience yang bertanya. Ternyata hidup saya gak useless-useless amat.

______

Hari ini juga, saya ditunjuk untuk mengisi kelas untuk mengisi kelas WAG dengan tema Digital Marketing dan tentunya disuruh cerita tentang dunia per-blogging-an saya. Audience-nya beberapa UKM di Kab. Klaten. Lagi-lagi saya kewanen. Tapi bukankah lebih baik begitu daripada hati saya hanya iri dengki melihat krim Nagita Slavina di Youtube yang mencapai 20 juta? 

Sebagai disclaimer, prinsip kewanen ini juga jangan sampai waton.

Baiklah. Saya undur pamit dulu pemirsa~

______
Translate

Mung Ndomblong   = Cuma Bengong
Kewanen                 = Terlalu Berani
Waton                      = Ngasal/Ngawur





5 komentar

  1. wow keren sekali kak! mantap, tetap menginspirasi ya!

    BalasHapus
  2. Best T_T suka banget sama poin di tulisan kamu ini. Bener juga ya, amatir lebih baik darimana mung domblong.

    BalasHapus
  3. Huwaaa nggak nyangka ya berawal dr ngeblog dan aku setuju sih gapapa amatir. Toh semuanya juga berawal dari amatir. Keep sharing terus ya.

    BalasHapus
  4. Daripada mung ndomblong dan komen2 jahat di akun orang~

    BalasHapus
  5. Udah keren banget ini Niiis bisa sharing di forum segedhe itu dan motivasiin temen2 yang dateng di sana buat ikutan berkarya kek kamu juga ��

    BalasHapus