Jurnal : Turut Berduka Atas Segala Kehilangan

Beberapa hari ini hidup terasa sedang tidak baik-baik saja. Sering merasa pusing, bahkan rasanya ingin tumbang. Menyadari bahwa memang benar pikiran dengan mudah bisa melemahkan fisik seseorang. 
_
Kucari tahu ; apa jalan terbaik menghapus kesedihan? 
_
Beberapa tahun lalu, saat aku merasa punya uang, aku memutuskan untuk pergi melewat batas negara sendiri. Atau melakukan perjalanan tak terduga dengan uang pas-pasan yang lagi-lagi juga sendiri. Hidupku kala itu sungguh se-gabut itu. Bepergian memang sebaik-baik pelarian. Tapi, tahun ini kisahnya berbeda. Mau pergi tapi dompet kosong. Jangankan ke negara orang, luar kota pun aku enggan. Singkat cerita, aku menyadari hobiku beberapa tahun lalu untuk terus menulis diary di kala aku benar-benar clueless harus bercerita ke siapa lagi.
_
Nampaknya zaman sudah berubah. Bukan nampaknya, tapi memang realitanya begitu, bukan? Dulu buku gelatik yang ku beli di kantin selalu jadi andalan. Sekarang, dengan tulisanku yang sudah lebih baik daripada sebelumnya, aku memutuskan untuk menulis segala hal yang aku alami di laman blog pribadi milikku.
_
Kemarin, aku baru saja kehilangan dua orang yang ku sayangi di hidupku. Pertama adalah pakde dari pacarku yang hilang selama-lamanya dari bumi. Kedua adalah sahabat karibku yang masih hidup di dunia tapi sepertinya sudah tidak akan melihat aku lagi di dunia. 

Kenapa bisa begitu?

Tidak perlu ku cerita. Singkat cerita, aku sedih. 

Layaknya seseorang mendengar berita duka, mereka akan memberikan empati sebaik-baiknya manusia. Innalillah, turut berduka cita ya. Begitu kira-kira. Namun, ketika aku kehilangan sahabat karibku ini, aku juga ingin diberi rasa empati serupa. Tentunya bukan dengan intro Innalillah, tetapi dengan pengertian bahwa 'kamu bisa jadi sedih, tapi jangan berlarut-larut, ya.'

Kehilangan pakde sudah tidak perlu dibahas. Beliau tidak akan kembali lagi. Tetapi, kehilangan temanku ini, bisa jadi dipertemukan kembali. Sebelumnya aku ingin bertanya pada dunia ; kesalahan apa yang mendasari manusia sampai dia tidak mau bertemu lagi? Ku harap ada kesempatan untuk bertemu, bertegur, lalu kembali seperti sedia kala meskipun keadaannya tidak akan sama.

Malam itu juga aku menangis satu menit. Aku kirim pesan singkat melalui whatsapp kepada salah seorang teman baikku. Cerita singkat bahwa aku tidak terbiasa mengalami masalah seperti ini. Lalu, ada hal yang membuatku tersadar. 

Setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya.

"Mungkin ini bukan masamu lagi sama dia."
"Oh, iya. Aku juga percaya sih people come and go. Jadi gausah sedih-sedih amat ya, beb."

Aku kembali mengingat. Beberapa teman karibku di masa kecil atau masa remaja yang dulunya nempel banget sama kita terus akhirnya sekarang jadi orang yang berbeda. Meskipun kita juga tidak membuat masalah apapun, tapi terkadang keadaan yang secara tidak kita sadari merubah semuanya.

Fase-fase transisi adalah hal yang paling aku benci, namun juga masa yang patut aku beri rasa terimakasih di beberapa tahun nanti. Banyak hal berat yang ada di luar kendali kita, sampai-sampai kadang aku mbatin "It is too much for a 23 years young". 

Dari nasihat dan perenungan itu aku banyak belajar, Bahwa kita tidak bisa mendikte keadaan, seringkali keadaan yang mendikte kita untuk bisa. Untuk bisa merelakan, mengerti, mengakui kesalahan, bersikap dewasa, dsb. 

Pressure is good for you

Sebuah nasihat singkat, yang membuat aku sadar. Dunia sedang tidak jahat, dia hanya memberi sedikit kejutan. Begitu kira-kira yang membuatku lebih tenang.
__
Setelah menangis yang akhirnya membuatku lega, lalu berbalas pesan singkat dengan temanku dan nasihat didalamnya, membuat pekerjaanku 2 hari ini terasa lebih ringan.

Aku tidak perlu khawatir.

"Tenang, ini cuma dunia.", kataku pada diriku sendiri.

Kali ini aku kembali untuk rajin terapi jurnal. Terimakasih, i feel better now.









1 komentar

  1. Pengalamannya sangat berharga sekali ya kak untuk pribadi, sekaligus buat para pembaca blog ini

    BalasHapus