Perjalanan Satu Dekade | 2020

Januari 4, 2020

Aku percaya, tahun 2020 ini bakal jadi tahun yang memberi banyak milestone buat hidup aku. Beda dari tahun-tahun sebelumnya yang 'rada' pesimis, tahun ini aku benar-benar merubah mindsetku untuk bisa melakukan lebih dari yang aku bisa. Khusnudzan dengan apa yang akan Tuhan beri, begitu kira-kira.

Di tulisan ini, aku jadi terinspirasi untuk menulis catatan satu dekade. Baru sepuluh tahun yang lalu, rasanya sudah jauh sekali diri ini melangkah.

Satu dekade yang lalu aku adalah...

Adalah aku anak SMP yang selalu ambisius sama prestasi akademik dan selalu ngerasa jelek! Beberapa hari yang lalu aku nonton film 'Imperfect'. Lihat cerita si Rara ini kaya ngaca sama diri sendiri. Di masa-masa puber, aku selalu ngerasa 'kurang' hanya gara-gara aku gak pernah dapet pujian cantik, dipilih jadi peran cantik setiap penampilan, atau dilirik cowok. Insecurity-ku ini yang bikin aku punya semangat 'minimal pinter kalo gak cantik'. 

Percaya gak sih dulu aku paling demam sama panggung dan bisa panas dingin kalau jadi pusat perhatian orang. Aku bisa nangis hanya gara-gara suruh maju ke depan dan ketika puluhan mata tertuju kepadaku. Rasanya 'Aaaah aku pengen ngurung di kamar aja!'

Semua bermula dari aku yang terpaksa harus menggantikan peran kakak kelasku yang gak bisa ikut lomba pidato. Waktu itu aku yang ditawari untuk menggantikan dia ketika lomba tinggal beberapa hari lagi. Dan hasilnya? Aku meraih juara harapan 1 kala itu. Untuk seorang paling cupu, kayanya prestasi itu prestasi terbaik untuk diriku sendiri. Hahahaha. Sejak saat itu aku jadi mulai sering mengikuti beberapa kompetisi pidato.

SMA Masa Terindah? 

Masa-masa transisi itu selalu gak enak, ya? Misalnya aja transisi dari anak kecil menuju remaja terus menuju dewasa. Rasanya saat itu cobaan ada ada aja. Terus ngerasa aku harus menghadapinya sendiri. Dari dibenci satu circle tertentu, mabok cinta, kehilangan temen, diremehin orang, dsb. Apalagi saat itu posisiku jauh dari orangtua. Mau gak mau aku harus survive dengan jiwa ke-sotoy-anku ini. Dari banyak masalah itu aku jadi banyak belajar. Belajar kalau Tuhan selalu ngasih masalah biar kita naik kelas.

Masa SMA ini juga masa dimana aku ngerasa bahwa aku gak cuma bertanggungjawab sama diri sendiri, tapi aku juga harus tanggungjawab sama keadaan sekitarku. Di masa ini aku udah belajar berorganisasi, terus juga belajar buat menghadapi banyak orang. Aku berterimakasih masa SMA-ku ini jadi sejarah untuk terbentuknya aku yang lebih gak cengeng lagi.

Di masa SMA juga pertama kalinya aku terjun ke dunia English Debate meskipun selalu kalah. But hell yeah, experience was all that matter, right? *denialdenialdenial*

Kehidupan Asrama Yang Membosankan

6 tahun hidup di asrama dengan peraturan yang strict rasanya bosen banget. Seneng sih karena ya so much i gained experience, meaning of friendship, leadership,etc tapi juga duniaku ya disitu-disitu aja. Aku bener-bener berusaha mencari kehidupan luas untuk melihat dunia lebih luas. Salah satunya adalah membaca. Membaca buku adalah cara aku membunuh kebosanan juga cara cepat untuk mencuri pengalaman. Selain  itu aku juga jadi lebih suka menulis. 

Sekitar tahun 2013 aku mulai menulis blog. Berarti sudah 7 tahun sudah sejak pertama kali aku membuatnya di kelas 2 SMA. Dari hobi membaca blog orang lain jadi suka kepikiran 'Pengen jadi blogger, ah. Ah tapi emang bisa?'

Pada zaman itu, become a blogger itu berkelas banget sih menurutku. Kalau nengok ke blognya Evita Nuh, Sonia Eryka, Anaz Siantar, dkk kaya yang 'Hello, kamu siapa nis?' karena pada saat itu yang hits banget emang para Fashion Blogger yang kayanya upik abu kaya aku gak akan mungkin bisa.

But, yea. A Decade has told me something good ; banyak jalan menuju Roma dan kamu salah satu orang yang sedang nyari jalan. Jadi gak usah khawatir, nanti juga sampe kalo gak nyasar.

Bandung ; Cinta, Harapan, dan Kehidupan yang Lebih Pabaliut

Kehidupan di Jatinangor, Bandung merubah hidupku 100 derajat celcius kalau kata Kekeyi. 

Bermula dari aku memahami bahwa ternyata manusia lebih beragam lagi. Sifat dan pemikiran manusia sangat didasari oleh dimana mereka hidup dan bagaimana mereka memandang hidup ini. Bahwa, patut dan tidak patut adalah preferensi pribadi. Bahwa, kita semua tidak sama yang harus memahami bahwa dalam keberagaman ini sebenarnya kita satu. Dari alasan 'satu' ini kita harusnya lebih menghargai manusia sebagai manusia.

Aku mulai menjadi Nisa yang lebih bebas, lebih ngerti apa yang dia mau, lebih belajar kalau senyum itu sangat amat menghangatkan orang lain. Bersyukur, aku lebih mencintai diriku sendiri.

Di awal-awal dunia kuliah, ini pertama kalinya aku tau serunya nonton konser, serunya dandan, serunya bisa pakai baju yang matching, serunya dunia baru, serunya berkomunitas. Banyak deh kalo diceritain. Hemat kata, aku jadi banyak hal seru diluar kehidupan asramaku dulu.

Dari kisah percintaan aku jadi ngerti rasanya harus memilih, kehilangan, menerima hal baru, kehilangan lagi, dan memulai hari baru lagi. Semua gak mudah. Tapi setelah dijalanin ternyata kisah cinta itu ibarat lelucon, ya. Kadang cringe kadang lucu juga hahaha.

Banyak harapan yang aku taruh di kota ini. Personality Development is my first goal saat itu. Berkomunitas adalah jalan ninjaku. Senangnya ketemu temen-temen yang satu visi, punya banyak temen, punya keluarga baru.  Menjadi seorang penulis, seorang model (cita-cita yang sudah ku kubur dalam-dalam), pengusaha adalah hal yang selalu ada di depan mataku.

Menuju kedewasaan, tentunya banyak konflik yang lebih dewasa. As a people pleasure, aku orang yang sangat menghindari konflik. Akhirnya dalam banyak konflik yang  pada akhirnya aku memilih mudur. Gak! Aku gak lari dari masalah. Aku lebih memilih mengalah daripada aku harus berlama-lama bersenggolan dengan orang lain. Apalagi orang yang paling sulit untuk mendengar.

Di masa-masa ini aku mencoba untuk lebih menunjukkan perasaanku ketika sayang sama orang. Pokoknya aku pengen hidup bahagia dengan aku sayang sama orang dan sebaliknya aku juga mau digituin. Meskipun ya tolong dicatat kalo gak semua orang yang disenangkan selalu merasa senang.

Setelah 4 tahun, akhirnya aku lulus kuliah. Artinya ; less money/no money from Mama. Sekarang aku bertanggungjawab terhadap diriku sendiri.

Dunia Pekerjaan ; Bisa Gak Sih Hidup Tuh Hidup Aja?

Menuju kehidupan yang sebenarnya, akhirnya untuk pertama kalinya aku kerja yang cuma libur pas weekend aja. Magang sih tapi setahun dan ada pressure-nya juga. Dalam hal ini, aku udah bisa menjawab pertanyaan basa-basi dari orang lain,"Sekarang kerja dimana?". Setidaknya, kegiatan setelah wisuda ini bisa menjawab social pressure kalau normalnya ya habis kuliah itu kerja. Kerja yang mapan!

Di akhir 2019 ini, aku banyak mengenali diriku sendiri, Kayanya aku kurang cocok kerja di perusahaan meskipun ya sebenernya aku masih penasaran kalau di perusahaan lain gimana ya keadaannya? Sebagai orang yang super penasaran, aku jadi pengen coba-coba. Tapi kali ini coba-cobanya berbeda ; pengen kerja di perusahaan sendiri.

Social pressure kadang bikin kita jadi ngelakuin hal hanya untuk dipandang wah sama orang lain. Yang ada akhirnya (kadang) bikin kita gak jadi diri sendiri. Untuk orang yang paling gak mau diatur kaya aku, aku memutuskan untuk keluar dari tekanan itu. Aku ingin bekerja semauku aja. Pokoknya aku gak mau dengerin kata orang lain. Bukan berarti aku gak menghargai mereka. Aku cuma gak mau tumbang hanya karena 'Kuliah jauh-jauh kok cuma bakul.' Sebagai orang yang hidup di desa, sungguh tekanan sosial kerasa banget sampe ke tulang-tulang :')

Pasca 4 tahun kuliah juga, ini pertama kalinya aku bener-bener di rumah. Kalau sebelum-sebelumnya, aku kaya mudik aja gitu. Jadi pulang tuh kaya cuma liburan nanti juga balik lagi ke tempat asal. Gitu. Sekarang aku menjadikan rumah bener-bener rumah dimana 24 jam aku disini tanpa mikir nanti balik lagi. Dan sekarang jadi belajar lagi gimana caranya bersosialisasi di tempat lama rasa baru ini.

 Banyaknya basa-basi teman/tetangga, kadang bikin aku tanya 'Bisa gak sih hidup tuh hidup aja?'

Awal Mula Bertemu

2019 awal, pertama kalinya aku kenal dengan pacarku. Rasanya? Biasa aja.

Kali pertama bertemu jujur bener-bener biasa. Gak nyangka kalau dia yang bakal jadi orang pertama yang harus tau pas aku lagi nangis atau pengen mati aja. Bermula dari 'sharing job' akhirnya skrg kita bisa 'sharing insight'. Insight dalam hal apapun terutama dalam ngejalanin hidup.

Aku patut berterimakasih sama orang ini karena dia yang ngajarin aku untuk tetap 'chill', untuk gak gampang marah, untuk tetap sabar dan legowo.

Untuk aku yang panikan, ambisius, overthinking - Mas Abi adalah orang yang tepat untuk personality-ku yang gur embuh.

Banyak hal yang pengen aku ceritain, tapi takut dia terbang.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

// Summary

Dari anak yang paling takut menjalani hidup, yang paling suka bertanya 'Tuhan, kenapa sih harus ada surga dan neraka? Aku kan takut masuk neraka. Kenapa dulu aku harus jadi manusia yang lahir ke bumi?" jadi orang yang bisa menerima bahwa hidup penuh konsekuensi. Yang pada akhirnya jadi anak yang enjoy banget dan super bersyukur bisa bertemu dengan banyak orang. Konsekuensi itu yang bikin aku jadi ngulik makna hidup dan menjalaninya dengan penuh tanggungjawab.

Dulu, ku pikir hidup sebagai seorang introvert dengan dunianya sendiri adalah hal yang menyenangkan. Termasuk gimana rasanya jalan-jalan sendiri, bahkan hidup sendiri. Bahkan, aku pernah ngebatin 'Kalau gak ada yang mau sama aku, aku siap kok hidup sendiri kaya gini.'

Sekarang, aku jadi tau ternyata bertemu orang yang tepat dan penuh kasih adalah hal yang jauh menyenangkan. Hidup sendiri menjadi prinsip lama yang ku buang jauh-jauh. Sekarang aku harus bilang sama Tuhan,"Ternyata jatuh cinta indah banget ya, Tuhaaaan."

Waktu SD, aku sering lihat sinetron. Ku pikir jadi orang kaya yang naik sedan dan kerja kantoran itu selalu enak. Ku pikir kalau kita punya mobil hidup kita lantas bahagia. Ternyata satu dekade berlalu, aku hanya ingin hidup yang serba cukup. Gak kelebihan, gak kekurangan. Aku takut tanggungjawab sama hartaku nanti Ya Tuhan. Tapi izinin saya keliling dunia ya meskipun saya gak minta banyak-banyak. Mungkin kalau ditulis, begitu kata hatiku selama ini.

Setelah beberapa kali bertemu orang yang salah, sekarang aku ketemu sama orang yang (semoga) tepat. Rasanya setelah wisuda-kerja, aku benar-benar merasa dewasa. Dewasaku semoga gak kaleng-kaleng.

Di umur yang ke-23, skincareku sudah berubah jadi anti-aging. Udah takut tuaaakkk!! Berarti nanti aku bisa nulis rangkuman satu dekade lagi pas aku udah kepala tiga dong, ya. Itu kira-kira anak aku udah berapa, ya? Di umur segitu kira-kira aku udah punya rumah sendiri belum, ya?

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Terimakasih semua yang sudah baca tulisaku. Ini aku ngomong sama laptop kok jadi terserah aku kan tulisannya jelek atau bagus? Soalnya laptopnya juga gak bisa ngomong. Sekali lagi terimakasih.







2 komentar

  1. Begitulah hidup ada senang dan sedih ,tetapi jika kita menjalani penuh keikhlasan akan menyenangkan

    BalasHapus
  2. Keren postingannya! Terimakasih ya kak sudah berbagi pengalaman :)

    BalasHapus