Life Is A Poem.

Sudah terhitung lama sekali. Tidak melihat diriku dan membaca tulisanku : Dulu, aku yang sibuk wira-wira ke Gramedia atau Taman Pintar untuk mencari novel-novel favoritku. Dulu, aku yang menghabiskan malam  utnuk menulis perasaan dalam jurnal-jurnalku.

Saat ini, orang-orang menganggap senja sebagai sesuatu yang indie, yang selanjutnya mereka sebut  sebagai sesuatu yang cringy.

Aku bukan pemuja senja. Juga, bukan orang yang mendramatisir hujan. Aku, hanya satu dari jutaan orang yang sangat menyukai cahaya jingga di sore hari. Atau, menangis di malam hari saat hujan turun dan membuat badanku lebih nyaman untuk berada dibawah selimut sampai pagi.

Bukankah hidup ini adalah puisi? Terlalu indah. Begitu kira-kira.

Beberapa tahun yang lalu, berpergian sendiri adalah hobiku. Bagiku, sangat menyenangkan bukan ketika kita bisa sangat mencintai diri kita sendiri? Disaat bertemu orang lain dan orang lain belum tentu mencintai diri kita, bukankah mengencani diri sendiri adalah hal yang menyenangkan? Yang selanjutnya akan aku ceritakan, ternyata dicintai orang yang tepay juga tak kalah menyenangkan.

Aku suka mengajak diriku sendiri pergi ke tempat baru, mengajaknya mencicipi makanan yang enak, dan mencari buku ; mana lagi yang membuatku menangis malam ini?

Cita-citaku ingin menjadi novelis. Seperti novelis-novelis idamanku. Melihat bukuku terpampang di Top 10 Gramedia. Atau mendapatkan surel kekaguman dari pembacaku yang membuatku semakin menggebu.

Hidup ini penuh dengan puisi. Begitu sendu, kadang juga terlalu ramai. Begitu banyak kejutan.

Tulisan-tulisan sedihku hilang. Berganti menjadi beberapa ulasan. Tapi aku berjanji, akan kembali lagi dengan bahasa dan perasaanku yang amat sangat melankolis. 

Jogja yang panas dan suasana malam harinya yang menyenangkan. Didalamnya, aku dan pacarku melintasi beberapa ruas jalan. Dengan motor tuanya yang dia beli bulan  lalu, tanganku digenggamnya erat-erat. Takut aku hilang, katanya. Dia tidak puitis, tapi matanya sungguh penuh rasa. Beberapa angkringan sudut kota menjadi tujuan utama. 

Kemarin malam, dia berkata kepadaku,"Besok aku kasih kamu me-time,ya. Kamu baca buku, nulis, ngapain aja. Pokoknya besok aku kasih waktu kamu buat me time."

Ujarnya membawa diriku untuk terus ingin, kembali menjadi diriku yang seperti itu. Tetap menjadi diriku yang menyukai kesendirian di sore hari, menyiram bunga depan rumah, membaca buku sejarah yang baru minggu lalu ku beli, dan menulis sesuai dengan kata dan rasaku.

Iya, kan? Hidup seperti puisi, kan? 

Jogjakarta, 2 November 2019

You Might Also Like

0 komentar