Mengintip Jogja dari Layar Gadget Kita

Ilustrasi adalah koleksi pribadi

Era serba digital menjadi latar belakang baru. Setelah sebelumnya isu komputerisasi, kini beralih ke isu digitalisasi, Latar belakang tersebut yang melatarbelakangi istilah 4.0 yang diambil dari revolusi industri 4.0. Tak heran, saat ini semua komunikasi dan pekerjaan terkumpul dan terkoneksi lewat layar gadget pada masing-masing individu.  

Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai kota yang katanya terbuat dari sejuta rindu ini membuatnya menjadi destinasi impian wisatawan lokal maupun internasional. Rindu yang membuat wisatawan tidak cukup sekali ke kota pelajar ini dikarenakan budaya, makanan yang enak, dan karakter orang-orangnya yang ramah terhadap wisatawan. Tak heran, teman-teman saya kerap kali meminta saya untuk menjadi guide ketika mereka sedang berlibur kesini. Tentu saja saya menyambutnya dengan senang hati. Yang selalu saya ingin tunjukkan adalah "Main deh ke Jogja. Bangunan sejarah dan wisatanya menarik dan harga makanannya murah-murah banget. Kalian gak akan nyesel dan pasti gak mau pulang!".

Saya ketika berpose di depan Kraton yang merupakan salah satu warisan budaya dan simbol fisik dalam Sumbu Filosofis
Ngomong-ngomong tentang budaya, sebenarnya apa sih budaya itu?

Menurut wikipedia, budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Nah, konco-koncoku, dari pengertian diatas kita bisa menyimpulkan bahwa budaya memilik beberapa perspektif. Budaya bisa dipandang sebagai kata kerja dan kata benda. Budaya adalah cara hidup adalah 'kata kerja', sedangkan budaya adalah budaya terbentuk dari beberapa sistem yang rumit yang akhirnya melahirkan kebudayaan adalah 'kata benda'. Cara hidup masyarakat Jogja yang serba penuh dengan unggah-ungguh adalah budaya, begitu pula Masjid Gede Kauman adalah bangunan sejarah juga budaya. Jogja adalah kota yang penuh dengan budaya. Tata cara kehidupan yang tersimpan penuh makna dalam bangunan-bangunan sejarahnya adalah kekayaan yang menjadi kebanggan Jogja yang berhati nyaman. Nilai-nilai tersebut tersimpan rapi dalam kekayaan kota Jogja yang diberi istilah 'Sumbu Fiosofis'. Sumbu ini yang menghubungkan bangunan-bangunan iconic di kota Jogja dan saat ini diberdayakan dengan mempromosikan dan memperbaiki fasilitas-fasilitas didalamnya.

Kekayaan Nilai dan Budaya Jogja dalam Sumbu Filosofis

Sumbu Filosofis merupakan garis lurus yang membentang dari Tugu Pal Putih menuju Panggung Krapyak di Yogyakarta. Sumbu Filosofis merupakan warisan budaya yang saat ini sudah tercatat sebagai tentative list UNESCO sebagai calon warisan budaya dunia sejak tahun 2017. Warisan tersebut mengandung cerita dan sebagai bukti bahwa tata kota Yogyakarta dibangun dengan nilai filosofi dan perhitungan yang sangat tinggi.

Ilustrasi adalah koleksi pribadi 

Garis lurus yang ditarik dari Panggung Krapyak, Kraton, lalu Tugu Golong Gilig memiliki makna "Sangkan Paraning Dumadi" yang artinya darimana asal manusia dan arah kemana yang dituju. 'Sangkan Paran' berarti asal muasal manusia untuk berproses, sedangkan 'Paraning Dumadi' berarti manusia yang eksis berproses untuk menjalankan kehidupannya. Sungguh, siapapun yang mengerti makna dari sumbu filosofis ini akan terkagum-kagum dengan tata kota yang dibentuk sedemikian bagusnya. Jogja lebih dari kraton, lebih dari berfoto ria di Tugu Pal Putih, lebih dari itu adalah ke-andap asor-an penduduknya untuk menjalani hidup, menghormati rajanya, dan mencintai Tuhannya. Itulah makna sumbu filosofis sebagai akar budaya, dimana budaya dalam konteks kata kerja yang menjadi pelajaran hidup turun-menurun masyarakat Jogja.

Fasilitas Sepanjang Sumbu Filosofis

Menyambut berita baik bahwa Sumbu Filosofis telah masuk dalam calon warisan budaya dunia, maka pemerintah pun mulai banyak berbenah. Tidak hanya berbenah, namun juga menambah. Beberapa langkah yang dilakukan pemerintah DIY diantaranya perbaikan fasilitas jalan/pedestarian dan penambahan fasilitas wifi. Yang paling bisa kita rasakan langsung yakni jalan sepanjang Malioboro yang sekarang makin luas, bersih, dan nyaman untuk wisatawan. Saya sendiri pun seringkali berjalan di sepanjang jalan tersebut jika sedang penat. Ruang parkir di pusatkan di beberapa titik tertentu sehingga kawasannya lebih tertata.

Line untuk tuna netra dan sistem drainase di sepanjang pedestarian Jalan Malioboro

Penambahan berbagai fasilitas di sepanjang sumbu filosofis ini menunjukkan bahwa sumbu filosofi bukan sekedar simbol secara fisik, melainkan juga simbol kemajuan masyarakatnya. Sebagai langkah secara konkrit, saat ini sepanjang jalan yang termasuk kawasan sumbu filosofis telah dilengkapi dengan fasilitas Wi-Fi gratis. Selain itu, pihak Kominfo DIY juga memberikan sosialisasi Wi-Fi ini kepada masyarakat disekitarnya. Artinya, pemberian fasilitas bukan hanya sekedar pemberian fasilitas, namun juga pemberdayaan masyarakat agar langkah pemerintah ini benar-benar memberi dampak yang baik dan tepat sasaran. Selain dugunakan oleh warga Jogja, fasilitas Wi-Fi juga bisa digunakan oleh wisatawan. Misalnya saja wisatawan yang berada di kawasan Malioboro dengan menggunakan Wi-Fi mempunyai kemudahan untuk mengunggah fotonya di sosial media, berkabar melalui video call, mencari tahu sejarah Yogya melalui mesin pencarian, bahkan memesan tiket dan hotel. Fasilitas Wi-Fi memberikan kemudahan orang-orang untuk membagikan dan memberikan kesempatan Jogja untuk diakses dunia. Dengan adanya langkah diatas, mimpi mewujudkan Jogja sebagai Jogja Smart Province pun akan semakin dekat.

Tenaga Informasi dan Komunikasi Memperkaya Budaya Literasi


Sekarang kita bisa dengan mudah membagikan momen maupun menerima informasi lewat media/literasi via media sosial

Secara tidak langsung Tenaga Informasi dan Komunikasi telah memperkaya budaya literasi. Hari ini, orang-orang lebih suka browsing melalui Google daripada membaca buku. Artinya, perpindahan budaya baca tersebut perlahan demi perlahan telah bergeser. Platform baca di internet pun mulai menjamur. Facebook, Twitter, Instagram adalah aplikasi yang memberikan akses untuk penggunanya untuk melakukan micro-blogging. Misalnya saja beberapa dari kita lebih menyukai review kuliner memalui foto dan caption Instagram, ada juga yang lebih menyukai membaca thread di Twitter. Adanya peran Tenaga Informasi dan Komunikasi yang dituangkan secara visual dan tulisan ini dapat memperkenalkan dan menumbuhkan akar budaya yang ada di Jogja. Sekarang semua informasi jadi serba mudah. Lucu dikit, viral. Keren dikit, viral. Faktanya, banyak sekali wisatawan yang ingin berkunjung ke Jogja gara-gara instagram, lho.

Mengintip Jogja dari Layar Gadget Kita



Meskipun sudah banyak sekali orang yang berdatangan ke Jogja, namun beberapa diantaranya belum juga mendapat kesempatan. Waktu dulu saya kuliah di Jatinangor, beberapa teman saya sangat excited ketika tahu saya asli dari Gunungkidul, Yogyakarta. Dimana kita semua tahu kan Gunungkidul itu gudangnya wisata alam dan budaya. Dengan adanya Teknologi Informasi dan Komunikasi, teman-teman bisa melihat Jogja cukup dari layar gadget kita. Banyak sekali youtuber yang membagikan momennya lewat vlog, ada juga yang share tips liburan ala backpacker di Jogja melalui blog, ada juga yang post foto liburannya di instagram. Tidak perlu khawatir. Sekarang semua tidak perlu diambil pusing. Kalau belum ada kesempatan untuk liburan ke Jogja, sekarang buka handphone, lihat destinasi mana yang ingin kamu kunjungi, set budget terbaikmu, reservasi tiket lewat gadget kesayanganmu. Kalau sudah mengintip, aku tunggu kedatangan kalian di Jogja, ya!

Salam,
Anisa Nuha

________________

Artikel 'Mengintip Jogja dari Layar Gadget Kita' ditulis dan dipublikasikan oleh Anisa Nuha
Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi pagelaran TIK yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika DIY 2019



You Might Also Like

16 komentar

  1. Kereeen, mampir ke blog kita juga yaaa

    BalasHapus
  2. Mantep, baca ini jadi kangen jogja✨

    BalasHapus
  3. ingin segera ke gunung kidul, dulu cuma ke goa pindullll
    jogja emang selalu ngangenin

    BalasHapus
  4. mbahas jogja emang ga ada abisnya ya teh, selalu ada cerita dan kenangan juga ngangenin pastinya hehe

    BalasHapus
  5. Cha, tulisannya makin bagus aja. Kerenn ih.
    Btw ak jadi banyak banget tau hal baru tentang Jogja dari tulisan ini. Thank you yahhhh

    BalasHapus
  6. Btw, itu ilustrasinya bikin sendiri? Bagussssss....

    BalasHapus
  7. Kok aku salfok sama semua ilustrasinya sih nuha? bagus banget itu. Desain sendiri? mudah-mudahan jogja beneran terwujud jadi smart province ya

    BalasHapus
  8. heiii cantikk.. kangen iihh, foto²nya baguss

    BalasHapus
  9. keren mbak. memang jogja adalah kota sejuta rindu. 6 tahun aku tinggal di sana, kenangan akan jogja tak pernah hilang. kota kedua bagiku setelah Solo. suka ama ulasan tentang sumbu filosofisnya mbak :)

    BalasHapus
  10. Duh, Jogja. Bikin kangen deh main dan jalan-jalan di sana lagi. Tiap sudutnya indaaaah 😍

    BalasHapus
  11. Jogya bener2 ngangenin yaa, terakhir kesana keliling2 demi demi kulinernya

    BalasHapus
  12. Kangen Yogya sampai sempet mikir sama suami kalau udah tua bisa ninggalin usaha pengen pindah ke yogya hihi

    BalasHapus
  13. Long time nggk ke yogja nih... duh kangen juga yah

    BalasHapus
  14. butuh liburan dan pengen banget liburan ke Jogja lagi huhu

    BalasHapus
  15. aku suka banget semua take photo nya lho Nis! Tapi keindahan Jogja itu gabisa hanya d tatap lewat layar gadget sih nis, serindu itu aku sama Jogja hehe

    BalasHapus