Membangun Infrastruktur dari Kita untuk Kita

Di periode Ir Joko Widodo, pembangunan infrastruktur digencarkan. Hasil dari pembangunan infrastruktur ini sudah bisa kita rasakan. Misalnya, saya dari Jogja ke Semarang hanya menempuh perjalanan 2-2,5 jam melalui tol Banyumanik. Pernah sekali, saya menjajal naik kereta Joglosemarkerto yang bisa mengantar saya dari Jogja ke Semarang maupun Purwokerto dengan sangat nyaman dan cepat. Pembangunan infrastruktur dan penambahan armada transportasi umum menuai pujian, tetapi tidak jarang juga menimbulkan beberapa cercaan. Padahal bukankah semua yang diupayakan pemerintah ini adalah langkah untuk mempermudah segala urusan keseharian kita? Untuk saya sendiri, saya melihat dari dampak positif pembangunan infrastruktur ini. Mobilitas jadi lebih lancar. Bukan hanya untuk saya pribadi, namun untuk rantai distribusi perusahaan dan kelancaran moda transportasi darat lainnya.

Kita selalu mendengar jika semua infrastruktur dan transportasi di setiap negara dibiayai oleh pemerintah. Pokoknya jalan bagus yang bangun pemerintah, jalan rusak yang salah pemerintah. Tapi beberapa dari kita mungkin belum tahu, kementerian apa yang membiayai? Direktorat apa yang mengatur pembiayaan dan resiko? Saya termasuk orang yang agak 'kudet'. Ketika saya membuka website DJPPR Kemenkeu, ternyata semua data publik bisa diakses disitu. Artinya, pemerintah menyediakan edukasi dan transparansi program yang bisa diakses dengan gadget yang ada di genggaman kita. Selain itu, untuk menyasar kaum millenial, DJPPR Kemenkeu juga menyediakan informasi publik melalui foto-foto di instagram yang mudah dipahami, termasuk mengedukasi tentang saham ritel.


Hutang Negara Banyak, Kok Bisa?

Sebagai lulusan ekonomi, saya belajar mengenai kelayakan hutang dan siapa saja yang bisa mengajukan hutang. Tentu saya tidak asing dengan konsep 5C yakni Character, Capacity, Capital, Collateral, and Condition. Saya sangat percaya bahwa hutang yang diberikan ke pemerintah Indonesia tentunya bukan tanpa syarat. Pemberi hutang juga pastinya memperhatikan stabilitas fiskal yang ada di Indonesia.

Narasi yang diciptakan memprovokasi sebagian pembaca untuk tetap percaya dengan narasi seakan-akan Indonesia bisa saja habis karena hutang. Seolah-olah pemerintah tidak bisa mengatur keuangan dari level atas sampai bawah. Tapi, pernahkah kamu melihat laman-laman yang telah dibuat pemerintah dan menganalisanya secara objektif?

Indonesia mempunyai tantangan untuk membahagiakan warga negaranya. Namun, pendapatan dari pajak dan non pajak belum cukup untuk memenuhi kebahagiaan tersebut. Oleh karena itu hutang sangat diperlukan untuk menutupi kekurangan-kekurangan anggaran negara. Hutang  tersebut dapat bersumber dari pinjaman dalam negeri dan pinjaman luar negeri.

sumber : infografik http://www.djppr.kemenkeu.go.id


Dilansir dari okefinance, rasio hutang terhadap PDB negara kita rendah dibanding dengan negara-negara lain yang mengikuti G20. Tapi, mengapa Jepang mempunyai rasio hutang lebih tinggi namun negaranya bisa maju? Ini pertanyaan yang banyak masyarakat pertanyakan, namun langsung dijawab dengan asumsi yang bermacam-macam. Faktanya, negara Jepang memiliki rasio hutang yang jauh lebih tinggi daripad Indonesia tetapi  90% utangnya berasal dari masyarakatnya sendiri. Cara Jepang mengelola hutangnya ini juga sangat bisa kita tiru dengan berinvestasi di SBN Ritel melalui Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko.

Negara Kita, Tanggungjawab Kita Bersama

Rasio hutang Indonesia terhadap PDB tergolong aman, tetapi  kita harus tetap berhati-hati. Nasihat ini disampaikan Chatib Basri melalui twitternya yang dilansir di CNBC Indonesia. Rasio hutang terhadap PDB dapat menurun jika hasil dari usaha kita lebih besar dari hutang yang harus dibayar. Rasio hutang juga akan kembali menuruh jika pertumbuhan ekonomi meningkat dan tingkat bungan bank sentral tetap. Pembangunan infrastruktur dan transportasi seperti jalan tol dan jalur kereta api tidak hanya memberi dampak kemudahan untuk kita sendiri, namun berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang bermanfaat untuk banyak orang.

Bicara kembali mengenai kemampuan Jepang mengelola hutangnya, maka di Indonesia pun kita bisa mengadopsinya. Salah satunya adalah mendukung program pemerintah dalam membeli saham ritel. DJPPR Kemenkeu dengan komitmennya membangun negeri mengajak kita untuk membangun Indonesia bersama melalui investasi. Bentuk investasi ini diwujudkan dalam berbagai macam produk, salah satunya SBSN (Surat Berharga Syariah Negara). SBSN ini juga diwujudkan dalam berbagai jenis produk, untuk lebih detailnya bisa klik disini.

Negara kita adalah tanggungjawab bersama. Ibarat tubuh, kita ini bagian dari tubuh. Ada hal yang menyenangkan kita ikut senang, ada beban yang dipikul kita ikut memikul. Termasuk tanggungjawab hutang negara adalah tanggungjawab kita bersama untuk berkontribusi bagaimana caranya menekan rasio hutang dan tetap menjaga pertumbuhan ekonomi. Uang yang digunakan untuk membangun infrastruktur dan transportasi, kita juga yang menggunakan. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Pengenalan Investasi Sejak Dini

Di fase saya yang sudah lulus kuliah dan bekerja, rasanya saya ketinggalan jaman banget. Bagaimana tidak? Skema pembiayaan negara dalam pengelolaan pembiayaan dan bagaimana strategi dalam manajemen resiko saja baru saya explore banyak sekarang. Di bangku kuliah dosen hanya memberikan highlight, selanjutnya mahasiswa yang harus banyak inisiatif. Rasa penasaran saya yang akhirnya membawa saya belajar banyak.

Di beberapa kampus sekarang sudah mempunyai pojok galeri investasi. Di kampus saya dulu ada, tetapi setahu saya yang dijual hanya saham-saham dari perusahaan swasta. Jujur, saya baru akhir-akhir ini mendengar istilah 'sukuk tabungan' lewat instagram DJPPR Kemenkeu. Terimakasih instagram! :D

Untuk itu, pentingnya sosialisasi pengenalan investasi ini dimulai sampah ke ranah-ranah universitas, agar semakin mereka paham, diharapka mereka punya daya semangat untuk membangun Indonesia bersama-sama. 

Investasi Kita Mempermudah Kita Semua

Diantara pembiayaan SBSN yang dikerjakan adalah pembangunan gedung perkuliahan UIN Sunan Gunung Jati Bandung, jalur kereta api di trans Sulawesi dan Jawa, pembangunan beberapa embarkasi haji, dan masih banyak lagi. Proyek-proyek tersebut dibiayai dari SBSN. Keren, bukan?

Bicara infrastruktur tidak melulu tentang tol dan gedung pemerintahan. Dengan berinvestasi, kita telah membantu pemerintah dalam membangun gedung perkuliahan juga, lho. Selain berinvestasi untuk diri kita sendiri, kita telah berinvestasi untuk kepentingan banyak orang. Kontribusi kita terhadap APBN telah membantu pemerintah dalam menekan rasio hutang sekaligus pembangunan infrastruktur. Artinya, investor adalah pahlawan bagi kepentingan bersama.

Penerbitan surat saham ritel seperti SBSN dan SBR merupakan salah satu langkah pemerintah dalam memperluas investor domestik dan menggencarkan semangat literasi investasi. Dengan berinvestasi., masyarakat telah berlatih mengalokasikan keuangannya dengan bijak dan bertanggungjawab.

Seiring dengan berjalannya waktu, program-program yang ditawarkan pemerintah lewat Kementerian Keuangan ini bisa meluas. Kesadaran investasi semakin tinggi dan secara otomatis investasi domestik akan bertambah. Pembangunan infrastruktur yang meningkat akan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang meningkat. Investor juga merasa aman karena DJPPR Kemenkeu turut melaksanakan pengelolaan resiko.

Saya melihat, dengan adanya gerakan #IniUangKita dan #PembiayaanUangKita akan memberi dampak yang baik untuk kebahagiaan warga negara Indonesia. Kebahagiaan ini bisa kita lihat dengan kemudahan-kemudahan yang pemerintah berikan. Kemudahan transportasi, kemudahan dalam fasilitas pendidikan, kemudahan dalam fasilitas keagamaan seperti adanya pembangunan embarkasi haji, dsb.

Mimpi Indonesia yang lebih sejahtera secara mental dan finansial ini kerjasama antar pahlawan. Investor sebagai pahlawan pembangunan dan DJPPR Kemenkeu sebagai jembatan untuk menyusun program dan kebijakan.

Jadi, apakah kamu sudah siap menjadi pahlawan bersama DJPPR Kemenkeu?

__________
Artikel ini ditulis dan dipublikasikan oleh Anisa Nuha dan diikutsertakan dalam kompetisi blog DJPPR Kemenkeu 2019



You Might Also Like

4 komentar

  1. Membayangkan orang2 yang selalu menyalahkan pemerintah,andai saja sebagian masyarakat bisa membuka matanya apa saja yang telah diperoleh dan dirasakan seperti jalan tol ato moda KA justru memepermudah kita melakukan aktivitas dan keperluan.Akan sangat indah yaa, cuss ahh smangat menjadi menjadi pahlawan DJPPR Kemenkeu, siap ga siap, ye kan..

    BalasHapus
  2. Bener banget, yang disediakan negara memang untuk kita. Dari uang kita juga. Jadinya suka heran ya sama yang ngerusak fasilitas umum. Kok dia gak sayang dengan uangnya. Itu kan dibangun dari uang kita juga.

    BalasHapus
  3. Ku merasa sedih deh kalo apa yg udah kita usahakan bersama tapi kalo d rusak sm oknum yg ga bertanggung jawab suka gengges sendiri nih

    BalasHapus