Mas Willa dan Mimpinya bersama Willa Ecobrick


Beberapa bulan lalu Jogja digegerkan dengan sampah yang ada dimana-mana. Saya pun turut menyaksikan. Di beberapa titik pengumpulan sampah, bahkan di pinggir jalan sampah berceceran dan tentunya menimbulkan bau tidak sedap. Kejadian ini yang akhirnya  ramai di media cetak maupun media online. Headline Jogja Darurat Sampah pun ramai diberitakan. Kejadian ini bukan tanpa sebab. Menumpuknya sampah di jalanan adalah dampak dari ditutupnya TPST Piyungan.

Plastik bekas merupakan jenis sampah yang dihasilkan manusia. Pada dasarnya, sampah dibagi menjadi dua, yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Dan tahukah kamu bahwa jenis sampah anorganik yang memenuhi TPST adalah sampah jenis plastik. Kalau kita amati, beberapa package produk dan kebutuhan keseharian kita selalu menggunakan plastik. Kebutuhan plastik semakin meningkat, sedangkan pengolahan plastik tidak linier dengan bertambahnya jumlah limbah plastik. Titik masalah dimulai dari sini. Beberapa kejadian membuka mata kita. Salah satunya adalah berita viral ikan mati yang ketika dibedah perutnya terdapat banyak sekali limbah plastik di dalamnya. Ini diakibatkan manusia yang saking bingungnya ingin membuang sampah kemana akhirnya dibuang di lautan. Lupa kalau di laut banyak sekali biota yang berhak hidup dan ekosistem yang harus dijaga.

Reuse, Reduce, dan Recycle

Masyarakat perlahan demi perlahan mulai mengerti apa itu 3R, yakni Reuse, Reduce, dan Recycle. Gerakan ini bisa kita lihat dengan muculnya beberapa bank sampah, termasuk di desa saya sendiri yang terletak di Desa Ngoro-oro, Gunungkidul. Pengurangan (reduce) sampah dapat dilakukan dengan menerapkan konsep zero waste yang meskipun sulit tetapi perlahan demi perlahan dapat dilakukan. Penerapan konsep zero waste ini sudah berhasil diterapkan di Jepang, lho. Sedangkan bank sampah ini selain menjadi tempat pengepulan sampah juga berlaku sebagai spot reuse dan recycle dengan cara mengolahnya menjadi beberapa karya seni yang bernilai jual.

Namun, beberapa orang mempunyai interpretasi yang berbeda-beda dalam memahami gerakan 3R ini. Salah satunya adalah Mas Willa. Mas Willa (23)  adalah satu-satunya trainer ecobrick bersertifikat di Gunungkidul yang mentraining seputar ecobrick ini di Jogja dan Jateng. Ecobrick adalah plastik yang dimasukkan ke botol dan mempunyai kriteria khusus yakni konten dari botol tersebut adalah sepertiga dari volume botol. Perhitungan sederhananya, jika kita menggunakan botol bervolume 600ml, konten minimal plastik adalah seberat 200gr.

Ecobrick yang telah disusun menjadi satu

Kemarin saya berkesempatan bertemu dengan Mas Willa dan ngobrol seputar kepeduliannya terhadap lingkungan. Selain itu, saya juga diberi wejangan seputar sampah dan mengapa ecobrick adalah salah satu solusi permasalahan sampah plastik yang semakin membludak. Mas Willa juga mempunyai mimpi yang ingin ia wujudkan bersama ecobricknya. Lalu apa mimpinya dan apa yang melatarbelakangi mimpinya tersebut?

Saya ketika berkesempatan mewawancarai Mas Willa secara langsung

Miskonsepsi  Recycle Sampah Plastik

Di awal diskusi, saya ditembak pertanyaan oleh beliau," Menurut kamu daur ulang sampah plastik itu apa?". Saya menjawab dengan polos,"Ya barang dipakai, menjadi sampah, lalu didaur ulang menjadi barang baru." Beliau langsung menceramahi saya panjang lebar. Maklum, kebutaan saya terhadap darurat sampah dunia saat ini masih membuat saya buta tentang seberapa bahaya plastik. Beberapa pendapat beliau membuat insight saya mulai terbuka tentang pentingnya mengurangi sampah plastik dan pemikiran 'nanti kalau sudah dipakai kan bisa diolah kembali'. 

Menurut Mas Willa, recycle adalah seperti analogi pohon mangga jika ditanam kembali akan tetap menjadi mangga. Recycle adalah mendaur ulang barang menjadi sama rupa, sedangkan plastik didaur ulang tidak akan menjadi sama rupa. Beliau menuturkan, tidak ada istilah recycle dalam sampah plastik, yang ada adalah downcycle dan upcycle. Sedangkan, sampah plastik jika didaur ulang akan  mengalami downcycle.

Miskonsepsi ini yang beliau sosialisasikan di training-trainingnya. Saat ini, beliau sudah mengisi 10 sampai 15 training selama setahun sejak tahun 2017. Selain mensosialisasikan tentang ecobrick, banyak sekali misi dan nilai yang ingin dia bangun bersama penduduk bumi. 

Selain mensosialisasikan miskonsepsi recycle sampah plastik, beliau juga merekonsepsi bahwa sampah adalah barang sisa. Barang sisa ini adalah barang yang bisa kita manfaatkan kembali menjadi energi. Misalnya, barang sisa organik bisa kita olah kembali menjadi kompos dan biogas yang bisa dimanfaatkan menjadi energi. Hal ini sudah dijelaskan dalam UU No. 18 tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah.

Sampah adalah Tanggungjawab Pribadi

"Sampah itu tanggungjawab siapa?", tanyanya dengan lugas.
"Tanggungjawab bersama, Mas."
"Salah! Sampah itu tanggungjawab pribadi. Rasanya nggak adil aja kalau kita yang nyampah tapi oranglain yang bertanggungjawab. Sampah itu tanggungjawab masing-masing individu.", tegasnya.

Cuplikan pertanyaan diatas mulai menyadarkan saya kembali. Selama ini kita menghasilkan sampah yang banyak, lalu tanggungjawab kita lempar ke orang lain. Beberapa negara membuang sampahnya ke negara lain. Yang lebih menyedihkan, beberapa negara mempunyai spot pembuangan di laut. Bisa dibayangkan kan betapa penduduk laut harus menelan racun-racun dari sampah yang dihasilkan manusia?

Secara tidak sadar, kita telah mewariskan sampah ke anak cucu kita untuk beberapa ratus tahun ke depan.

Sampah Plastik Berbahaya dan Harus Segera Ditangani

Plastik adalah sampah yang sangat sulit untuk terurai. Dia membutuhkan waktu selama 20-1.000 tahun tahun untuk terurai (sumber : kompas). Mengapa plastik murah? Karena ia terbuat dari sisa-sisa penyulingan minyak bumi. Jika dibuang dia susah terurai, jika diolah kembali dia akan mengalami downcycle. Serba salah, kan?

Sampah plastik jika dibakar akan menjadi microplastic yang mencemari tanah dan udara, jika ditimbun akan menjadi microplastic, jika dibuang di sungai akan mencemari air. Sedangkan, siklus air selalu berputar dari atmosfer ke bumi dan sebaliknya. Jika microplastic ini sudah mencemari lingkungan lewat udara dan sungai, sebenarnya hari ini kita sedang menghirup dan menelan racun dari microplastic.


source : www.ruangguru.com
source : www.mitechnews.com

Sederhananya, air sungai/laut tercemar lalu menguap menjadi awan, turun menjadi hujan. air tersebut membasahi bumi dan membantu pertumbuhan pangan kita. Sayur dan berbagai macam tumbuhan tersebut kita makan untuk kebutuhan sehari-hari. Dari pemaparan Mas Willa diatas, saya jadi merasa bersalah sekali menggunakan plastik. Ternyata selama ini saya membunuh diri saya secara perlahan.

source : www.mountelizabeth.com.sg
Sejarah Willa Ecobrick


Mas Willa ketika sedang bersosialisasi di tengah masyarakat


Mas Willa adalah seorang aktivis lingkungan. Langkah pertamanya dalam memberi langkah nyata pada lingkungan adalah mendirikan bank sampah bersama teman-teman kuliahnya yang mereka beri nama Kali Cisarua (Kader Lingkungan Cinta Sampah Rumahtangga) yang berada di Petir, Piyungan, Bantul. Pergerakannya di kepeduliannya terhadap sampah mengenalkannya pada ecobrick di suatu bazar. Karena konsep dan bentuknya unik, beliau mulai serius di dunia ecobrick dan mengikuti ToT (Training of Trainer).

Beberapa bulan pasca pelatihan, Mas Willa merasa bersalah sekali tentang dampak sampah plastik di lingkungannya. Sosialisasi beliau mulai dari keluarga, lalu pada momen KKN beliau mulai menawarkan pelatihan ke masyarakat. Tanggapan masyarakat yang responsif dan keinginannya untuk terus memberi pelatihan membawanya pada tahun pertama mengisi pelatihan ecobrick dalam 20 sesi pelatihan.

Untuk lebih menjangkau audience lebih luas lagi, pada tahun 2017 beliau membuat instagram Willa Ecobrick. Track record Mas Willa dalam memberi training ecobrick membuatnya dikenal bahkan sampai ke kelas nasional. Lalu, setelah dikenal apa mimpi Mas Willa selanjutnya?

Mimpi Mas Willa dalam Membuat Kampung Ecobrick di Kabupaten Gunungkidul


Mas Willa dan ecobrick-nya

Mas Willa berasal dari Karangmojo, Gunungkidul. Ilmu yang beliau miliki saat ini rasanya mengganjal jika tidak disalurkan dan memberi dampak kepada orang sekitar. Salah satu misinya adalah membagikan ilmu kepada orang-orang terdekatnya dan masyarakat tempat dimana ia tinggal.

Saat ngobrol empat mata bersama Mas Willa mengenai mimpinya, saya cukup kaget. Ternyata mimpinya bukan hanya sekedar mempunyai jam terbang tinggi dalam menjadi trainer dan memberi dampak kepada banyak orang, tetapi lebih dari itu. Posisi beliau yang menjadi satu-satunya trainer ecobrick di Gunungkidul membuatnya bermimpi bagaimana jika suatu saat label 'satu-satunya' ini bisa menggerakkan satu kabupaten.

Lalu, apa sih misi Mas Willa dalam mewujudkan mimpinya ke depan?


Beliau bercita-cita suatu saat orang-orang di kampungnya makan dari hasil olahan kebun sendiri. Mimpi ini berkaitan dengan ketahanan pangan yang ada di Kabupaten Gunungkidul. Selain itu, beliau ingin menjadikan kampungnya sebagai kampung ecobrick dimana kampung tersebut dapat menjadi wisata edukasi tentang pengolahan plastik.

Mimpi ini dilatarbelakangi oleh banyaknya sampah di Kabupaten Gunungkidul akibat membludaknya wisatawan. Impas dari majunya pariwisata salah satunya adalah meningkatnya jumlah sampah plastik yag dihasilkan masyarakat maupun wisatawan. Kalau tidak segera ditangani, masalah sampah ini akan sangat berbahaya. Salah satu caranya adalah mengedukasi masyarakat  Gunungkidul itu sendiri.

Mas Willa saat ini juga mengedukasi ibunya untuk mengkonsumsi sampah plastik seminim mungkin dan membuatnya menjadi ecobrick. Beliau pernah mencobanya, dalam satu tahun 60% sampah plastik yang dihasilkan rumahnya hanya berjumlah 6 botol berukuran 600ml. "Harusnya kita jangan bangga kalau semakin banyak ecobrick yang kita buat. Bangga itu kalau kita bisa seminim mungkin dan menghasilkan sampah plastik sedikit mungkin. Jadi tugas saya sebagai trainer bukan sekedar mengajari membuat ecobrick, tapi mengedukasi banyak orang agar lebih aware terhadap bahaya plastik dan mengurangi jumlah konsumsinya."

Pertemuan saya dengan Mas Willa meskipun hanya 3 jam namun membuka mata saya untuk lebih peduli dengan lingkungan. Mimpi Mas Willa sudah seharusnya menjadi mimpi kita bersama agar menjaga bumi agar tidak sesak oleh sampah. Apa kamu siap menjadi bagian dari pahlawan bumi?




You Might Also Like

0 komentar