Curhat : Hilal Wisuda Semakin Terlihat

foto ibu sama temen-temen pas masih kuliah 

Alhamdulillah, hari ini aku baru saja menghadapi tahap kedua dalam dunia per skripsian, yaitu kolokium. Rasanya nano-nano, sedikit bangga karena jomblo. Gak ada caption di instagram "makasih ya support system aku" sambil dikasih emot sayang. Biar si doi ngerasa dihargain. Tapi ya beginilah hidup, kadang bareng kadang sendiri, Termasuk skripsi, siapa yang mau ngerjain kalau gak diri kita sendiri.

Pagi tadi diwarnai dengan drama naik turun tangga. Dari salah print sampai lupa edit. Dari di sarkas di masalah draft sampai masalah power point yang dibuat kurang dari satu jam. Tapi kalau sudah dilewati dan ngelihat nilai kumulatif - yang bisa aku ucapkan hanya hamdalah dan terimakasih berjuta kali buat netizen-netizen ku yang ikhlas dengan suka hati mendoakan semua kelancaran hidupku.

Setiap tahap kehidupan punya level masalahnya sendiri. Lebih dari syukur karena tantangan-tantangan yang berhasil dilewati. Artinya Tuhan mempercayakan semua masalah kepada hati dan pikiran. Menguji kesabaran dan cara bagaimana kita menjalani hidup.

Jadi flashback ke beberapa tahun yang lalu : dimana pikiran kacau, kuliah kacau cuma gara-gara cinta. Berantem, drama, sakit hati : buang-buang waktu. Baru sekarang menyadari 'kenapa kemaren-kemaren ga fokus aja dulu sesuai nasihat orangtua?'. Baru sekarang juga menyesali 'seandai dulu gini, pasti sekarang udah gini.'

But nothing happened for no reasons. Ini semua ada karena ada pelajaran yang patut diambil didalamnya. Termasuk semua drama-drama, roman picisan, naik turun, baik buruk yang ada di kehidupan seorang manusia biasa dengan follower instagram 1.500 ini.

Oke baiklah, kembali ke percakapan skripsi tadi. 

Begitu juga dengan skripsi. Beda judul beda cara. Setiap sarjana di negeri ini pernah mengalami masa-masa yang akan dirindukan ini.

Hari ini sudah membayangkan rasanya keluar dari ruang wisuda, memakai toga, memeluk Ibuk Bapak yang sudah jauh jauh dari Jogja.

Ingin kutunjukkan kepada mereka bahwa anaknya sudah berhasil membawa keinginannya selama ini. Aku sudah dapat melewati semua tahapan-tahapan ini.

Lalu, setinggi apapun gelar kita : untuk siapa kalau bukan mereka? 

Lantas, aku meminta pertimbangan - dari semua mimpi dan ekspektasi. Dari semua ingin dan ridha mereka.

Bismillah - La haula wa laa quwwata illa billah :)

You Might Also Like

17 komentar

  1. wahhh yang udah mau lulus... semoga sukses terus dan lancar semua nya ya ...

    BalasHapus
  2. Kiwww bentar lagi bertoga. Sukses selalu nis

    BalasHapus
  3. semoga lancar yah sayyyy segalanyaa

    BalasHapus
  4. MEMANGNYA SAYA DULU NDAK PENGEN BILANG "makasih ya support system aku" TAPI ORANGNYA MENDADAK KABUR :)))

    Wah kamu masih beruntung Nis, segini doang dramanya. Aku waktu itu kacau balau. if you know what i mean hehehehe
    Banyak-banyak bersyukur, masih bisa kuliah, skripsi, sidang karena ada yang membiayai. Diluar sana ada lho yang pengen jadi kamu :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah teh, meskipun lieur oge banyakorang yang ingin merasakan kelieuranku.. terimakasih teh Nes. Btw teteh curhatnya lanjut meet up aja yuk sambil amkan red velvet wkwkw

      Hapus
  5. Semoga dilancarkan jalannya nisa.. Uh aku mendadak jadi inget up tesisku yg belum tersentuh..:" #brbbukalaptop

    BalasHapus
    Balasan
    1. sentuh aku teh ami, sentuh aku,,, kata si tesis

      Hapus
  6. loveyou nis, ikut bangga kamu bisa lewatin tahap ini, tetep semangat, tantangan semakin makin makin di depan sanah!!!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. loveyou teh Raraaaaaaa...uhuw sedih juga tapi akunya mau pisah sama Bandung

      Hapus
  7. Bismillah yaaa. Nanti setelah 5 tahun berlalu malah kangen masa masa gini hahahaha

    BalasHapus
  8. bismillah semangat selalu nissss. itu paragraf pertama kok bodor yaa :)))) “support system”

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahhahahahha Teh Heldaaa........ terimakasih

      Hapus
  9. Bismillah semangaaaat terus ya jangan sampe kendor

    BalasHapus