Curhat : Kerja Lembur Bagai Kuda

Alhamdulillah, halo semuanya, Taqabalallahu minna wa minkum ya, semoga Allah menerima amalan-amalan ibadah kta di bulan Ramadhan kemarin.

Rasanya udah lama banget gak bikin konten blog, setelah sekian lama pengen review barang tapi gak jadi-jadi, pengen nge post tapi masih kurang konten, dan alasan-alasan lain yang memang gak bisa ditinggalin.

Mumpung masih pagi, aku mau curhat tentang hari yang super duper ngeseeeliiin di hari kemarin ini. Btw, udah lama banget jadi diri aku sesungguhnya yang ke blog cuma gara-gara mau curhat hahaha. Curhat di story udah mainstream, sekarang curhat di blog aja deh biar orang-orang terniat mau baca tulisan gak jelas ini yang mampir kesini.

Image result for kerja lembur bagai kuda
source : google

KERJA, KERJA, KERJA!

Well kita mulai dari sini ya. Jadi sebelumnya aku mau cerita dulu kalau orangtuaku itu pedagang. Bukan anak pejabat, dosen, apalagi presiden. Cuma kalau Bapak memang punya banyak kesibukan di organisasi kemasyarakatan yang nirlaba, jadi memang untuk sosial bukan cari duit ya seus. Setiap habis lebaran gini emang puncak-puncaknya dagangan orangtua rame-ramenya. Alhamdulillah. Tapi jangan kira hidupku cuma kebanyakan ongkang-ongkang di rumah sambil main instagram. Gak! Ibu aku selalu ngasih kerjaan atau tantangan sebelum ngasih sesuatu. Misal "nanti kalau un juara 11 dibeliin honda jazz" misalnya, tapi itu cuma mimpi doang hahahah. Atau "nanti bantuin Ibuk ke warung" baru kalau mau main berani minta jajan. Alhamdulillah, memang hidupku sangatlah indah meskipun tidak seindah Rafathar.

Kemarin, aku baru aja kerja lembur pulang jam 11 malem. Badan udah kaya mau copot semua tuh jam segitu, pake koyo cabe pun udah gak manjur. Akhirnya pulang ke rumah dan bobo dengan tenang sekitar jam 12. Tapi paginya ada hal yang sangat ngeselin, jadi para supplier ini, kita sebut saja tenant ya agar rada gaul saeutik, nyetorin produk yang bener bener gak sama kaya kita. Asal muasal para orang yang menang tender (aseek) ini adalah mereka mantan karyawan yang cukup dianggap capable dalam menciptakan produk yang sama. Hari-hari sebelumnya gak ada cang cing cung paginya langsung setor barang, pfft. Oke, masih bisa menahan amarah ya karena yaudah deh terima dulu lagian kita juga kekurangan barang. Setelah dijual, beberapa pelanggan balik lagi ke toko dan komplain "Bu, kok barangnya kaya gini?" "Bu, kok gak kaya biasanya." -- oke, mau gak mau kan kita yang sudah menjual brand, karena kemasannya punya label Ibu saya, jadi harus nuker atau refund. Dan itu terjadi berkali-kali. Hufh kezeeel

Y btw merk ibu saya itu skala UMKM yang masih kecil. Jadi rasanya ikut kesel aja liat Ibu yang udah bangun kepercayaan kepada pelanggan bertahun-tahun terus reputasinya mneurun begitu saja. 

Y oke, itu jadi pertimbangan besar. Mungkin kesalahan juga terjadi dari kami sendiri yang gak minta tester atau mempertimbangkan secara baik baik untuk mencari supplier. 

Karena di rumah alhamdulillah meskipun bukan saya yang punya uang, tapi sering dikaish kepercayaan untuk menghitung uang. Jadi tahu persis omset yag didapat setiap hari. Konkuslinya, tahun ini omset menurun dari 30%-50%, mungkin juga karena faktor banyaknya kompetitor serupa di Gunungkidul ini.

Dan malamnya, karena aku udah ngantuk banget kan otomatis keliatan lesu banget ya. Apalagi kaki udah pincang gegara seharian berdiri ngelayanin pelanggan. Oh, bukan berarti aku gak suka. Aku justru sangat suka kerja menghadapi banyak orang ini, tapi justru capeknya kalau udah istirahat. Selama kerja bahkan aku happy banget. Apalagi ketemu pelanggan lama. 

Terus pas aku duduk duduk, mas-mas alfamart bilang "nek mung ngantuk we, akeh kancane" -- artinya "kalau cuma nagntuk aja banyak temennya"

Gimana ya perasaan aing, pas udah capeeeeek banget, kaki pincang, pusing, terus dikatain kaya gitu. Tambah kesel tapi ya peduli teuing ah.

Dan bangun tidur tadi, tenggorokan radang dna harus pergi lagi jam setengah 8. Tapi karena dikasih kerjaan d rumah dulu makanya aku juga bisa nge blog buat healing gitu :") hiks

MORAL VALUE 

  • Pada akhirnya pemirsa, aku memberi kesimpulan. Bahwa sekolah jauh-jauh ke Jatinangor dengan pembahasan berupa pajak, sop, marketing mix dan tetek bengek lainnya itu baru intermezzo. Realitanya di lingkungan kerja, termasuk UMKM seperti produk ibu saya ini lebih complicated.


  • Aku juga belajar menghargai uang dari usahaku, menghargai arti sebuah 'kemewahan'. Aku sangat banyak belajar dari idola saya dalam berbisnis "Chairul Tanjung" dan mas "Gibran". Keduanya sama sama berduit, yang satu anak presiden pula. Tapi gak perlu pake waistbag gucci, menurutku mereka itu image orang yang sangat mewah. Pada intinya, kesederhaan itulah kemewahan kita yang sesungguhnya. Ketawadhuan itu kekayaan yang sesungguhnya. \

  • Ibu selama ini selalu bilang 'kalau punya uang jangan bayak gaya, nanti kalau udah gak punya malah jadi ejekan orang'. Itu juga menohoque untuk diriku yang masih labil dan suka gaya-gayaan. Rasa-rasanya sekarang bukan waktunya lagi bermimpi punya tas hermes atau punya 10 lambo. Punya hidup yang cukup dan membahagiakan adalah impian baruku saat ini. aseiikkkk.

Summary - aku bersyukur dikasih sehat untuk merasakan lelah, karena gak ada hasil tanpa lelah. dan aku juga bersyukur masih bisa kesel, karena banyak banget refleksi untuk diri aku dan mitra lain untuk berbenah.

Cukup seqian, bhay, wassalam.

MAAF KALO GAK NYAMBUNG YA EMANG GITU ANAKNYA.

You Might Also Like

0 komentar