LOGIKA KITA (feat. Firstiansyah A)

-- this fiction is literally made for art and trial. so this man who replied as a man is my friend, not my crush--

VALLERY

Pagi ini telingaku sempat sakit. Akibat kebodohanku memakai headset saat tidur, selain kebodohanku mencintai orang yang amat sangat naif untuk kembali saat ini. Iya, Evans. Semua membenarkanku, bahwa bukan kamu yang salah karena pergi saat semua orang sedang bahagia-bahagianya. Tapi salahku sendiri karena memilih kamu pada awalnya. Tidak ada yang salah dalam keputusanmu menelepon "Val, kayaknya jalan yang kita pilih salah,deh." -- menurutku, tidak ada keputusan yang salah dalam tahap pendewasaan. Karena pada akhirnya semua akan menjadi pelajaran.

EVANS

Pagi ini ku buka mataku lalu melontarkan perkataan penuh harapan. "Jangan pergi". Kata yang mewakili perasaan dalam diri, dari seseorang yang berusaha untuk memiliki si pencuri hati. Memang dunia ini bukan milikku, bukan milikmu, bukan milik kita. Tapi bukankah status kita hamba? bukankah Ia telah menjanjikan untuk mengabulkan segala doa ketika tugas kita sudah terlaksana? Maka izinkan aku membisikkan sebait kata penuh makna di heningnya malam dan bulan purnama. "Yang Maha membolak-balikkan hati, teguhkan hati ku padanya, buatlah dia mencintaiku seperti aku mencintainya. Izinkan ia tahu bahwa aku tidak pergi meninggalkannya. Beri ia isyarat bahwa aku akan kembali suatu saat nanti. Perintahkanlah hujan untuk menyejukannya sebelum aku melakukan itu. Perintahkanlah matahari untuk menghangatkannya saat ia membutuhkan." Val, tunggu aku.

VALLERY

Menurutku, pelajaran paling susah di matematika itu logaritma. Tapi ternyata lebih sulit ini, ya. Kalau semua laki-laki berfikir  sikap wanita itu susah dimengerti, aku justru berfikir sebaliknya. Tidak ada yang bisa ku pahami dari sikap laki-laki yang memilih pisah, tapi tak ingin ditinggal. Can you get what I mean, Vans? Itu sesuatu yang paling sulit di hidupku saat ini ketimbang dilabrak kakak angkatan karena dituduh merebut pacarnya. Oh ya, satu lagi. Kalau menurut Dilan rindu itu berat, menurutku penasaran itu lebih berat. Apa iya, kamu adalah satu-satunya orang yang akan kulihat pertama kali saat aku bangun tidur nanti? Apa iya, kita kan berbagi makan sepiring berdua disaat kita hidup nanti? Semua pasangan mengeluh akan kerinduan, tapi tak punya rasa rindu juga jauh lebih menyiksa. Karena mulai malam ini, sudah kuputuskan untuk tidak ada acara untuk menangis penuh drama, menyempatkan waktu untuk video call, atau menanyakan kamu sedang apa, atau hal-hal tak berguna lagi untuk kamu,Vans. Ingat sekali lagi, ya. Tidak ada yang salah, pada akhirnya semua akan menjadi pembelajaran.

EVANS

Baiklah. Bagaimana jika aku menawarkan diri untuk mengajarimu bersabar? Bersabar menghadapi keadaan, bersabar menghadapi sikap seseorang, bersabar untuk menanti walaupun kau tak tahu pasti seperti apa jadinya nanti. Mulailah mempercayai aku dari sekarang. Kita masih memiliki Jutaan detik untuk dihabiskan. Nikmati saja dulu rasa penasaranmu, dan yakinlah bahwa aku bukan satu-satunya orang yang akan kau lihat ketika kau membuka mata di pagi buta. Karena kita nanti akan terbangun karena suara tangisan seorang anak yang bangun dari tidurnya, entah karena haus atau lapar. Kita tidak akan berbagi sepiring nasi dan lauk-pauk hanya berdua, karena ada seorang anak yang ingin disuapi oleh kita. Dan kasih sayangmu pun akan terbagi nantinya. Bukan, bukan terbagi tetapi ada perasaan baru yang muncul. Untuk ku, dan untuk anak kita. Namun itu nanti, bukan sekarang. Aku tidak akan menyalahkanmu atau diriku, tetapi waktu.

VALLERY

Oke.Oke. Logikamu bagus. Jawabanmu menarik. Tapi sayangnya, tak sebanding dengan sikapmu yang kuhadapi saat ini. Kamu bicara terlalu jauh, padahal aku hanya bicara sebatas rindu. Tapi, bisa jadi memang aku yang terlalu terburu-buru. Darimu, aku percaya waktu. Hanya waktu yang bisa memecahkan semua rasa penasaran -- yang kataku menyiksa itu. Kamu tidak perlu mengajariku bersabar layaknya guru les. Semua akan mengalir begitu saja, seperti mencintaimu, merindukanmu, lalu melupakanmu. Semuanya mudah bagiku, seperti saat pertama kali melihatmu di lapangan sekolah sedang bermain basket. Semudah itu jatuh cinta, sepertinya juga semudah itu melupakanmu. Aku tidak akan melupakanmu 100%, karena sangat mustahil aku amnesia. Sampai bertemu suatu saat nanti ya, Vans. Di pagi hariku atau saat aku nanti memberimu berita hari bahagia yang bukan lagi bersamamu.

.... to be continued



You Might Also Like

0 komentar