Kembali Pulang

Ini adalah note kecil, cerita manusia yang masih berjalan dan belajar

Pernahkah diri kita merasa kehilangan sesuatu paling berharga dalam hidup? Kehilangan orangtua? Kehilangan harapan? Kehilangan mimpi? Saya yakin setiap dari diri kita pasti pernah merasakan kegagalan-kegagalan dalam hidup. Dan itu adalah titik balik perubahan dalam diri saya, dan anyway saya sangat bersyukur dengan kegagalan-kegagalan dalam hidup yang memotivasi diri kita untuk terus berbenah dan bertanya "Apa kekurangan-kekurangan dalam hidup yang harus kita perbaiki?"

Menurut saya point utama yang harus kita lakukan adalah ikhlas menjalani semua skenarioNya. Karena ikhlas adalah cara ampuh untuk menyerdehanakan, dan kesederhanaan membuat kita lebih simple dan enteng.

Sebelum saya menyampaikan berapa hal, saya yakin setiap manusia sepakat bahwa setiap orang punya masa lalu, solusi paling tepat untuk memaafkannya adalah berdamai dengannya, karena masa depan sudah melambai hangat menyambut kita.

Dan untuk semua orang yang mengingat-ingat masa lalu dari setiap orang yang anda kenal, mungkin membantuya untuk lupa adalah sikap yang bijak :)

Saya merasa bahwa Allah menguji saya, bukan dengan cobaan melainkan degan kenikmatan. Saya diuji dengan ilmu, lalu pada saat tertetu saya merasa cukup dengan apa yang saya punya. Pohon semakin tinggi semakin kencang anginnya, dan itu yang saya alami. Saya belajar banyak ilmu fiqh, ilmu tafsir, tapi pada keadaan tertentu setan mulai menyusup ke setiap langkah saya.

Afwan, ini bukan bermaksud membuka aib. Wallahi saya ga bermaksud :) ini hanya segelintir cerita yang semoga jadi pelajaran untuk readers yang inshaalah diberkati Allah

Kisah Awal

Saya mulai berpacaran dengan seseorang di kelas 2 SMA. Awalnya orangtua melarang, tapi saya tetap ngeyel, melihat hubungan dengan mantan saya yang semakin dekat semakin hari dan saya yakin bahwa dia calon suami saya. Dengan perasaan yang menggebu-gebu, saya selalu melakukan apa saja yang bisa membahagiakan dia. Dia sosok yang baik, sering mengingatkan saya dalam segala hal dan ketika ada yang protes saya selalu bilang "Ah gapapa, selama itu ngasih pengaruh positif ke diri aku. Tetus dia tuh suka ngingetin aku kalau salah. Pokoknya dia tuh baik deh." 
Tapi ada suatu masa ketika saya bener-bener pengen sendiri dan memutuskan untuk kuliah keluar kota. Dulu saya sudah bersemangat menggebu-gebu "Pokoknya harus kuliah keluar kota. Aku gak mau pacaran terus kan kalau pacaran pasti ada masanya ketemu, yah maksiat maksiat lagi deh." Saya sudah tanamkan niat itu dalam-dalam, tapi ternyata Allah ngasih ujian yang lebih berat lagi.

Kuliah Ke Luar Kota

Saya dipertemukan dengan teman sekelas saya semasa kuliah. Seolah-olah Allah bilang "Nih, katanya kamu gak mau pacaran. Coba sama yang ini, kuat gak iman kamu" atau setan bilang "Gapapa kali, nis. Dia mah baik, pacaran sama dia mah gapapa". Itu adalah keadaan dimana saya lagi diuji dengan bahagia bertemu dengan orang baru. Dan saya yaki  teman-teman saya kecewa dengan keputusan saya yang terlalu tergesa-gesa dan melawan prinsip sendiri. Dan lagi-lagi saya terjatuh pada lubang yang sama : pacaran dan sangat meyakini bahwa dia adalah calon suami saya. Dan jawabannya tertebak lagi, saya putus dengan laki-laki itu dikarenakan satu dan dua hal. 

Ada saat saya menangis, kecewa, merasa apa yang saya lakukan selama ini sia-sia.

Karena dulu saya pernah ikut komunitas kampus yang sering mengadakan halaqah di pagi hari, saya pernah suatu saat ikut kajian tersebut dan pembahasannya well : pacaran, boleh gak dalam islam.
Then, pada saat sesi opini ada seorang akhwat yang tanya saya "Kalau menurut nisa gimana ?"
Saya bingung mau jawab apa. Jujur, waktu itu saya mau jawab secara objektif, tapi posisi saya waktu itu masih ada hubungan dengan seorang lelaki. "Emm.. kalau kita pacaran tapi udah ada komitmen diniatin buat serius gimana teh?" Saya malah balik bertanya saking nervousnya. Lalu teteh itu jawab "Terus kalau yang selama ini nisa perjuangin ternyata gak jadi gimana?" Jleb! Atuhlah, pagi itu saya kalah skak mat akibat fatwa yang saya  bikin sendiri.

Saya meraa kehilangan Tuhan selama 4 tahun lebih. Kenapa saya bilang begitu? Karena selama itu saya mengalami perubahan yang sangat drastis, bahkan 180 derajat. Saya merasa jauh dari Allah, ngerasa hina, ngerasa harus pulang ke rumah. Kaya Allah udah marah banget dan bilang "Pulang! Sekarang udah waktunya kamu baik ke rumah." 

Ahamdulillah saya sering pulang ke rumah, karena jarak kampus dan rumah yang bisa dtempuh cepat dengan kereta, Saya masih punya temen yang gak pernah menghakimi tapi selalu mengingatkan saya dengan kebaikan-kebaikan. Teman-teman yang gak selalu mendukung saya dalam keadaan apapun, tetapi yang selalu menyalahkan saya ketika berbuat salah. 

Menurut saya, tidak ada yang perlu disesali. Which is meant, aku ga nyesel ketemu sama mereka yang ada pada masa lalu aku. Mereka orang-orang yang baik, mungkin caranya aja yang gak baik.

But hey girls, buat dirimu berharga. Sekotor apapun manusia, mereka punya waktu untuk beristighfar selama masih bernafas, meminta maaf dengan orang-orang yang pernah kita sakiti, dan terus memperbaiki diri. 
Tunggu lemar taaruf aja deh, barangkali kisah cinta kamu kaya Khadijah yang dulu ngefans sama Rasul atau kaya Zulaikha yang awalnya ngejauh dari Yusuf yang gantengnya kaya Kyuhyun, eh tapi malah dideketin sama Allah hihi. Yuk ah cheers :) Jangan sedih jomblo, ada masanya kalian bahagia, punya anak lucu-lucu, salih saliha biar bisa beliin tiket surga.

Jika tidak mampu berlomba dngan salihin dalam ibadahnya, maka berlombalah dengan pendosa dalam istighfarnya.

Salam Hangat,


Anisa





You Might Also Like

0 komentar