The Story of Jessica : Why Should I Be Jealous ?

Dua tahun yang lalu

Hari ini malam sabtu, ya ?
Iya, hari ini malam sabtu yang harusnya Radit menjemputku untuk makan malam bersama keluarganya.
Tapi nyatanya, dia belum datang.
Malahan dari sosial medianya, aku tahu dia sedang menjemput wanita lain. Kenapa aku bisa tahu ? Ya kalian tahu sendiri jawabannya, aku adalah stalker sejati.

Seiring berjalannya waktu, aku semakin dekat dengan Radit. Mengetahui segala kebiasaannya, caranya meyembunyikan masalah, menggaruk-garuk kepala ketika nervous, dan segala hal-hal tidak penting yang sepertinya tidak perlu kujelaskan. Aku dan dia hanya sebatas rekan kerja. Sesederhana itu.

"Tunggu aku, Jes."
Itu yang dia katakan sebelum akhirnya meluncur ke kantorku. Tapi pada akhirnya, aku malah memilih untuk mencari taksi dan menggagalkan rencana makan malam tanpa permisi.

Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri sepanjang perjalanan pulangku menyusuri ramainya ibu kota. Apa yang membuatku tidak ingin bertemu dengannya ? Bukankah aku dan dia hanya sekedar teman ? Aku kira, aku tidak perlu cemburu ketika dia sudah menghabiskan sepiring nasi dengan wanita lain sebelum menemuiku.

Saat ketiga kali dia menghubungi tanpa jawaban, aku me-rejectnya, lalu mengiriminya pesan singkat.
"Aku sudah pulang. Lelah."
Iya, aku lelah untuk segala kecemburuan yang tak perlu kurasakan. Toh kita hanya sekedar teman dekat yang setiap hari bertemu, berpapasan, bertukar cerita, bahkan bertukar mimpi.

Tapi apa arti telefonmu setiap malam untuk mengiringi tidurku dan ketukan ruangan kantorku dengan dirimu yang terpaku membawa sepiring sarapan hangat? Apa arti tepukan pundak kita ketika kita saling menguatkan satu sama lain?

Mungkin itu tak berarti lebih dari apapun bagimu. Tapi bagiku iya, Dit.

Itu mengapa aku harus pulang malam ini, membiarkanmu yang terjebak ditengah macet tanpa hasil.
Terimakasih sudah membuatku jatuh kedalam hatimu, lalu hanya sekedar terbuai, lalu terbuang.

"Mengapa kamu terburu-buru? Makan malamku bersamanya belum cukup membuatku kenyang. Aku ingin terus bersamamu. Demi apapun."

Itu pesan terakhir tak berbalas darimu. Sebelum aku tidur dengan  airmata setitik dua titik jatuh diatas bantalku.

 
 

You Might Also Like

0 komentar