Lucky Me : Mari Bersyukur

Assalamualaikum,

Pada kesempatan sore hari ini aku bakal banyak cerita tentang aku - aku yang harusnya merasa bersyukur karena banyak hal yang sudah aku dapetin selama hidup ini. Kadang-kadang dalam hidup kita terlalu banyak ngeluh, minder, dan selalu ngelihat orang yang lebih lebih dari kita, sehingga bikin kita selalu ngerasa kurang. Somehow hal ini juga bermanfaat untuk hal-hal postif, kaya kita minder karena kita ga lebih baik dari temen kita, atau kita lebih banyak malesnya daripada rajinnya, hehe. Pokoknya tergantung penempatan.

لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ فَقَالَ لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلَانٌ فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُهْلِكُهُ فِي الْحَقِّ فَقَالَ رَجُلٌ لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلَانٌ فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ

Tidak boleh iri kecuali dalam dua hal, yaitu (1) seseorang yang Allah ajarkan al-Quran kepadanya. Kemudian ia membacanya malam dan siang sehingga tetangganya mendengarkannya. Lalu tetangga tersebut berkata, “Kalaulah aku diberikan karunia seperti si Fulan, maka aku akan beramal seperti yang ia amalkan”; dan (2) seseorang yang Allah karuniai harta. Ia menghabiskan hartanya dalam kebenaran. Lalu seseorang berkata, “Kalaulah aku dikaruniai seperti apa yang dikaruniakan kepada si Fulan, maka aku akan beramal seperti apa ia amalkan”. (H.R. Bukhari).


Tapi dengan artikel ini, aku ga akan banyak cerita tentang pribadi aku, tapi lebih ke pengalamanku yang bisa jadi pelajaran hidup yang bisa dipake untuk kedepannya. Mengutip dari kata Pidi Baiq, kalo dalam hidup, kita ujian dulu baru dapet pelajaran, kalo di sekolah kita belajar dulu, baru ujian. Ada benarnya, dan itu memang realita.

Yang lebih sedihnya, manusia kadang terlalu berharap ke sesama manusia dan membuat pengharapan yang terlalu duniawi. Nah, ini yang sering ga kita renungkan. Kita terlalu sibuk bikin surga di dunia tapi lupa bikin surga di akhirat. Dan that was me banget, dulu saat semua terasa idealis. Kita selalu berfikir masa depan adalah garis lurus yang dengan mudahnya kita plan dan berjalan mulus, padahal untuk mencapai poin yang ingin kita tuju, Allah pasti bakal ngasih banyak rintangan yang unpredictable.

Dulu aku selalu mikir, "ah, gampang lah itu mah!". Seolah-olah kitalah pemegang kendali, yang dengan mudah meneytir kesana-kemari, tanpa berfikir bahwa Tuhan punya rencana lain. Contoh ketika kita berharap masuk peguruan tinggi negeri favorit, kita sudah terlalu sombong, seolah-olah memang kita mampu dan itu baik untuk kita. Padahal apa yang menurut kita baik, belum tentu juga loh baik untuk kita. Ya, memang kita sering dijauhkan dari hal yang baik, bukan karena kita tidak baik, mungkin ada hal yang lebih baik untuk kita. Mengutip dari buku Dilan ( ini mah kutipannya Pidi Baiq wae, kenapa yeuh :p ) : Masa lalu sudah baik, mari kita biarkan. Ya, marin kita biarkan meskipun itu adalah pedih, karena kita yang sekarang adalah hal yang lebih baik - karena Tuhan tahu yang terbaik.

Sekarang, aku kuliah di salah satu PTS di Jatinangor, aku dengan senang kuliah di Institut Koperasi Indonesia, jurusan Manajemen dan insyaallah akan mengambil konsentrasi Manajemen Bisnis. Aku gatau apa rencana Allah membawaku jauh kesini, tanpa saudara sedarah, dan bener-bener ga pernah mimpi dan ngebayangin kuliah di tanah ini. Tapi disini aku seneng banget, bisa bereksplorasi dengan dunia yang belum pernah aku bayangkan, bertemu dengan orang-orang yang ga terduga, merasakan sakit dan tawa, ujian hidup yang datang tapi aku menikmati, dan much more yang gak bisa aku jelasin. Pokoknya priceless. Mungkin kalo aku masih di kandang (maksudnya di kota halaman), aku belum tentu bisa berkembang kaya sekarang. Tantangan terberat adalah, menghadapi segalanya sendiri dan tetap menjadi diriku sendiri.

Terlalu banyak hal yang harus kita jadikan bahan muhasabah. Semoga artikel ini bisa menjadi penyemangat kita untuk lebih menerima ketetapanNya, tanpa mengeluh dan selalu qanaah dalam segala hal. Selalu merasa cukup dan terus bersyukur : pokoknya syukur dulu, syukur lagi, syukur terus :)

Selamat senja, readers
Semoga bermanfaat, 
Wassalamualaikum wr wb

You Might Also Like

0 komentar