Cerpen : Pulang Ke Rumah

Sebenarnya cerpen ini sudah saya tulis sekitar akhir tahun lalu, saat diikutsertakan di Geo Islamic Fair, UPI. Semoga menginspirasi dan menjadi bahan muhasabah bersama, ya :)
_______________ 

Perkenalkan namaku Safira. Diambil dari nama batu yang sangat menawan, elegan, dan menjadi idola banyak orang. Dan kalian pun dapat menebak, nama itulah yang diberikan Abah untuk diriku sebagai doa dan harapan terbesar dalam hidupnya. Namun perlahan-lahan Abah khawatir dengan doanya. Sebagai gantinya, Abah selalu berdoa di setiap sujud malamnya, mengulangi lagi doa-doanya, dan memohon hidayah seluas-luasnya yang akhirnya doa itulah yang mengantarkanku ke dalam sujud paling dalamNya lagi.

Cerita itu dimulai saat gerbang Madrasah Amaliyah berakhir.

“Jadi, Safira mau ambil kuliah kamu di Jakarta?”

Aku belum bisa menjawab. Masih memikirkan jawaban yang tepat untuk Abah. Disaksikan Umi yang sedang merapikan meja makan dengan wajahnya yang penasaran menunggu jawaban dari Safiranya yang cantik ini. Bukan karena aku tidak dapat menjawab pertanyaannya, lebih tepatnya karena aku menimang-nimang apakah jawabanku cukup sopan untuk diutarakan atau jawabanku akan mengecewakan hati mereka atau tidak.

Beberapa detik terlampaui hening dan Abah pun melanjutkan pertanyaannya lagi.”Jadi, Safira mau ambil kuliah di Jakarta dan ninggalin Abah sama Umi ngurusin pesantren ? Safira gamau belajar jadi ustadzah atau banyak belajar kitab sama Abah mungkin atau …?”

“Safira tetep ambil, Bah. Itu sudah Safira impikan sejak lama.”, jawabku singkat, natural. Defensif, tetapi dikemas lebih sopan.

“Jakarta itu ..”

 Umi mencoba melawan keinginanku. Tetapi sudah dipotong dengan jawabanku diluar kendali.

“Kejam?”, tanyaku singkat.”Umi Abah ga usah khawatir. Safira bisa jaga diri baik-baik. Dari SD sampai sekarang, Abah yang selalu milihin madrasah buat Fira. Bahkan Fira selalu di pesantren sampai Fira gak tau dunia luar. Fira pengen bebas, Bah. Fira bosen!”, jawabku jauh lebih defensif, lebih frontal.

Sebenarnya jawaban ini yang ingin kuutarakan sudah semenjak lama. Aku menangis kesal, lalu meninggalkan percakapan serius itu tanpa permisi.

Sebelum langkah kakiku menginjak beberapa langkah dari pintu kamar, aku menyeletuk pelan lagi.

”Fira pengen dunia baru, Bah. Fira pengen hijrah.”

2 minggu sudah aku memingit diriku sendiri di dalam ruangan kotak pengap tanpa jendela. Tanpa mengikuti kajian kitab dari Abah, mendengarkan tausiah rutin malam minggu dari Umi, atau bahkan sekedar bersenda gurau dengan santri-santri yang berkeliaran di lingkungan rumahku. Aku merasa tercekam, bahkan terkekang sepanjang hidupku, sampai saat ini.

Semua terasa seperti repetisi. Tanpa penguatan hati dan dasar untuk apa aku melakukannya. Semua sudah Umi ajarkan, tetapi kadang aku tidak peduli. Jilbab, ngaji kitab setiap sore, tidak boleh keluar rumah diatas jam maghrib, tidak boleh tidur setelah subuh, dan aturan-aturan lain yang sudah aku lakoni semenjak masih kecil.

Mungkin kalau dihitung, sudah ratusan kali Umi mengetuk pintu tanpa jawaban. Tetapi kali ini aku tidak bisa menolak rayuannya.

“Dibuka pintunya, Nduk. Umi mau minta waktu sebentar buat ngomong. Umi ndak akan marah, kok.”, pintanya halus dengan nada jawa khasnya.

“Nggih, Mi.”, jawabku sambil membukakan pintu kamar.

Tangannya mengular hangat di pundakku, lalu jemarinya perlahan-lahan mengelus halus penuh sayang.

“Setelah Abah dan Umi pertimbangkan, dengan berat hati, Fira boleh ambil kuliah di Jakarta.”

Belum selesai Umi meneruskan kata-katanya, aku sudah kelewat girang dengan memeluknya erat sambil teriak  sampai susah bernafas.

“Aaaaah, syukran, Mi.”

“Tapi, Fira janji ya bakal ……”

“Iya, Fira janji, Mi! Janji pokoknya.”

“Janji apa?”, tanyanya menggoda.

“Sholat tepat waktu, ngaji setiap hari, dhuha sebelum sekolah, tahajud tiap malam.”

“Pinter.”

Tanganku mengular erat di perutnya. Menghirup bau misk lembut yang sudah lama tak tercium selama beberapa minggu kebelakang.

---

            Tiket kereta sudah ada ditanganku. Dan dengan harap-harap cemas aku, Abah, dan Umi menunggu kereta yang aku tumpangi datang. Aku berharap hidupku empat tahun ke depan akan baik-baik saja dan apa yang aku bayangkan kelak akan menajdi kenyataan.

            “Jaga diri baik-baik ya, Nduk. Kalau ada libur panjang bilanga aja ke Umi. Nanti pasti Umi kasih uang buat pulang. Semua yang ada di pesantren pasti bakal kangen banget sama suara tilawah kamu.”, Umi mewanti-wanti dan mengulang nasihatnya berkali-kali. Aku mengiyakannya.

            Kereta pun datang. Pelukan Abah dan Umi memberi tanda perpisahan.

---

Jakarta.

Seperti yang sudah dibayangkan, Jakarta selalu terasa panas dan padat. Aku sama sekali belum pernah menjamah tanah ini, apalagi tahu jalan-jalannya. Kakak kelasku yang kebetulan sudah ada di Jakarta satu tahun lebih dahulu dariku menjemputku di stasiun yang sudah dijanjikan. Aku akan tinggal di asrama kampus yang sudah aku booking dari jauh-jauh hari. Kebetulan jaraknya hanya depan belakang dengan kampus dan memudahkanku untuk ke kampus tanpa kendaraan. Semoga aku betah disini dan tidak menyesali keputusanku.

“Kamu akhirnya ambil jurusan apa, Fir?”, tanyanya sambil menikmati makan malamnya di sebuah kafe dekat kampus. Untuk touchdown Jakarta, Mbak Aisy, kakak kelasku mengajakku keliling Jakarta dengan mobilnya dan menunjukkan spot-spot yang terkenal dan akhirnya berakhir di kafe pinggiran.

“Teknik Industri, Mbak. Kalau ada apa-apa, aku menghubungi Mbak Aisy aja, ya. Soalnya aku kan ga ada kerabat disini dan cuma Mbak Aisy aja yang aku kenal. Hehehehe.”, pintaku centil. Mbak Aisy ini sahabat, kakak, dan ustadzah yang sangat baik yang pernah aku kenal. Senyumnya manis, kulitnya putih, pipinya kemerah-merahan. Sudah setahun ini aku tidak bertemu dengannya

            “Tapi kamu jangan kaget ya sama dunia baru kamu.”

            “Emang kenapa mbak. Nyeremin? Atau Fira bakal ga banyak waktu lagi buat main-main? Atau ..?”, aku menebak-nebak cerewet.

            “Nanti Fira juga bakal tahu sendiri kok tanpa Mbak kasih tahu.”
            Lalu percakapan kami berakhir. Mbak Aisy mengantarkaku ke asrama baruku, lalu meninggalkan pergi sampai memastikan bahwa barang-barangku sudah tertata rapi dan kamarku nyaman untuk dihuni.

---

            Masa orientasi kuliah pun sudah berakhir. Sudah waktunya aku merasakan dunia kuliah yang selama ini aku impikan dan bertemu dengan teman-teman baru. Perkenalkan dunia baruku. Dunia sangat bertolak belakang dengan dunia yang selama ini aku nikmati. Teman-teman yang baru aku kenal memaksaku untuk beradaptasi lebih keras. Tidak sedikit yang apatis atau macam pemandu sorak yang diceritakan di teenlit. Semua yang ada di cerita teenlit dan sinetron seperti menjelma di dunia nyata. Aku kira memakai rok dengan belahan tinggi, labrak-melabrak, merokok di tempat umum, pergi ke kelabing hanya sekedar settingan skenario yang terlalu dibuat-buat.

            “Ah pake kerudung segala lo. Udah kaya anak pesantren tau gak? Cupu gitu kelihatan dekil. Hahahaa ..”, aku mendengar sekelompok anak metropolitan yang sedang bergurau di kantin kampus. Tetapi aku pura-pura tidak peduli. Aku malah menyibukkan diri dengan meng-scroll instagram ku dan mengutak-atik tanpa tujuan.

            “Iya, apalagi yang jilbabnya digede-gedein gitu, dilapis-lapis warna-warni kaya pelangi. Udah kaya kue lapis. Hahahaha ..”, seorang wanita berambut blonde menimpali sambil tertawa terbahak-bahak.”Kaya anak baru yang di jurusan ..”. Suara mereka terheti setelah melirik-lirik aku. Lalu suara lantang mereka berubah menjadi bisik-bisik yang sekali lagi aku tidak mau peduli.

            Aku seperti menikmati dunia yang sama sekali belum prnah aku bayangkan. Melihat sekelompok preman bermain kartu di lorong gang, melihat wanita merokok asyik di kafe, bahkan di tempat umum, adalah hal baru yang sama sekali menjadi kesan terburukku setelah memasuki masa kuliah.

            Sayangnya, Mbak Aisy kuliah di kampus yang berbeda. Aku sulit menemuinya lagi karena kesibukannya sebagai mahasiswa kedokteran dan jaraknya yang relatif jauh. Aku merasa asing. Dan pada suatu saat aku bertemu dengan teman-teman baru.

            Seorang wanita seumuranku bertubuh jangkung menghampiriku yang sedang membuka-buka buku catatan. Aku cukup mengetahui namanya, Shafna. “Nama lo siapa?”

            “Fira.”, jawabku singkat dengan senyum sopan.

            “Jangan diem aja. Disini lo ga bias hidup sendiri. Lo bisa gabung kok sama kita yang ada disini”. Empat orang di sebelahnya menyambut dengan senyuman hangat. Aku mengetahui nama mereka setalah mereka menyalamiku satu persatu. Nama mereka Angel, Lisa, dan dua laki-laki, Deni dan Bara. Kelimanya adalah orang asing yang kelak akan membukakanku pada dunia luar sebenarnya – yang sama sekali belum aku sentuh.

---

            Seperti apa yang dinasihatkan Umi, setiap ba’da Maghrib aku selalu membuka Al-Qur’an.

            “Jangan lupa ngaji sama baca maknanya, Nduk. Biar kamu ga merasa hilang. Biar hati kamu ada talinya.”

            Pesan itu tidak hanya disampaikan sebelum aku berangkat kesini, lebih dari itu, bahkan ribuan kali, nasihat itu selalu diucapkan semenjak aku masi ngaji Iqra’.

            Suara ketukan pintu asrama mengagetkan dan memberikan gerakan reflek untuk menyudahi ngaji sore ini.

            “Fir. Buka pintunya dong!”. Dua orang dengan suara cempreng khas mereka mengetuk-ngetuk pintu tanpa salam.

            “Iya.” Aku membukakan pintu sambil tergopoh-gopoh karena mukenaku kebesaran dan terbelit-belit.

            “Kita mau main, nih. Ayo mumpung besok ga kuliah dan jarang banget kan lo main-main kayak gini.” Rayu Shafna dengan bujukan halusnya. Setelah mempertimbangkannya cukup lama, akhirnya aku mengiyakan ajakan mereka. Dengan rayuan bahwa ini weekend dan aku tidak akan mungkin punya waktu lagi karena terbentur dengan jadwal kuliah yang padat ditambah kegiatan kampus yang baru aku tekuni.

            Aku keluar dari gerbang asrama dengan raut wajah yang kaget. Ternyata 3 sohib lainnya sudah menunggu didalam mobil.

            “Nah gitu dong, Fir. Sekali-kali main. Jangan ngaji mulu. Bosen.”, kata Bara yang sedang asyik dengan i-Pod nya menyambutku dengan sindiran itu sambil tertawa terkekeh-kekeh. Aku hanya tersenyum, tanpa perlawanan.

            “Eh, udah-udah. Caw yuk!”, ajak Deni yang sudah duduk lama di kemudi mobil.

            Mobil melaju dengan cepat, sesekali pelan terkena traffic jam dan ini adalah hal yang paling aku benci di Jakarta. Iringan music up-beat dengan volume bass yang keras pun menggema di mobil, diiringi dengan suara cempreng Angel yang mengikuti lirik lagu. Macet pun mengantarkan kami pada perjalanan berjam-jam dan sebenarnya aku tak tahu kemana tujuan malam ini. Aku kira hanya sekedar hangout, makan-makan sembari membahas hal-hal kampus atau saling berbagi cerita tentang kejadian janggal atau dosen paling menyebalkan.

            Tetapi perkiraanku salah.

            Mobil berhenti tepat didepan kafe remang yang ada di pusat ibukota. Aku cukup familiar dengan nama kafe yang terkenal dengan hal-hal tidak senonohnya.

            “Gue ga mungkin ikut kalian dengan pakaian kaya gini.”, keluhku penuh kesal. Aku mendengus lalu merapatkan tangan ke dada.

            “Santai kali.”, rayu Shafna dengan wajah datarnya.

            “Gue ga bisa.”, tolakku untuk yang kedua kalinya.

            “Lo gak asik.”

Tangan Bara menunjuk wajahku penuh kecewa. Dan pada akhirnya, aku takluk juga. Dengan perasaan deg-degan dan badan panas dingin aku memasuki kafe disorot dengan pandangan aneh orang-orang. Tetapi aku pura-pura tidak tahu.

            “Lo mau pengajian?”. Seseorang yang tidak aku kenal menyubit lenganku dan menyodoriku dngan pertanyaan yang benar-benar sangat tidak mengenakkan. Aku risih dengan suasananya. Dicubit-cubit cowok, dielus lembut dagunya tanpa hormat, disuit-suit, dan menjadi sorotan banyak pasang mata hanya karena aku memakai hijab membuatku ingin cepat meninggalkan tempat ini.

            “Bukan. Ini bukan habitatku. Ini bukan Shafira.”, batinku meyakinkan diriku sendiri.

            Jam demi jam berlalu, pagi sudah berdentang, dan akhirnya kemuakan ini berahir.

            Dan bodohnya, karena aku yang terlalu polos serta kehilangan arah, bukannya aku lawan, semua malah semakin menjadi-jadi. Aku terbawa arus dan aku bukan menjadi diriku sendiri.

----

            Bulan demi bulan terlewati. Sudah 5 semester aku menikmati kehidupan diluar kendali Abah, diluar penjara pesantren.

            “Mbak, Aku pengen pulang.” Hanya satu kalimat diiringi airmata yang keluar setelah aku memaksa Mbak Aisy menjengukku di asrama. Sudah lama aku ingin berbicara privat seperti ini dengan Mbak Aisy, tetapi selalu saja gagal.

            Kuliah jauh yang aku pikir adalah sebuah hijrah kehidupan dimana aku bisa menikmati sisi dunia lain, menatap masa depan secara lebih liar, dan bertemu orang-orang baru, sangat kontradiktif dengan ekspektasi yang aku gadang-gadangkan. Semua diluar prediksi, bahkan terlalu meleset. Aku keluar dari kendali kontrol dan kehilangan pakem kehidupan. Aku kehilangan kebiasaan-kebiasaan akhirat yang menghilangkan keiistiqomahanku. Semua diluar rencana dan pada saat titik terendah, aku merasa kehilangan Allah. Aku rindu ingin pulang.

            Mbak Aisy hanya sanggup terpaku melihat aku menangis di pelukannya, tanpa kata. Hembusan nafasnya yang dalam mengawali celotehannya malam ini.

            “Fira, kamu harus percaya dengan rencana dan ridho. Larangan Abahmu dulu buat pergi jauh, sarannya untuk menemaninya membangun pesantren semata-mata bukan karena pengen ngekang kamu, Karena mereka sayang dan pengen membangun istana akhirat kamu secara lebih dekat.”

            Jawabannya mengena. Aku menunduk lemas dengan sisa-sisa sesenggukan yang tidak juga terhenti.

            “Kamu gak usah khawatir sama diri kamu sendiri, Fir. Hidayah itu seperti rumah. Sejauh apapun dia pergi, hidayah akan kembali ke tempat asalnya. Asal hati kamu bersih dan dibarengi dengan niat yang baik.”, Mbak Aisy menambahkan. Wajahnya menduhkan. Namanya seperti wataknya. Aisyah, seorang gadis cantik dengan pipi kemerah-merahan yang akhirnya menjadi istri Rasulullah yang sangat cerdas.

            Tangisku bukan semata-mata menyesali keputusanku yang dulu. Lebih dalam dari itu, aku menyesali ketidak-konsistenanku pada diriku sendiri. Aku sudah keluar dari menjadi diriku sebenarnya dan jati diri menjadi hamba yang seharusnya.

            “Aku nyesel, Mbak. Aku muak!”, teriakku dengan isak yang lebih kencang. Aku marah dan jijik pada diriku sendiri. Aku sudah kenyang dengan dunia luar yang ternyata lebih kejam daripada yang aku bayangkan.

            “Kamu gak perlu nyesel. Kamu cuma perlu membangun istana kamu lagi. Menata batu-batu yang runtuh untuk meguatkan pondasi, Fir.”

            Semakin bersuara, semakin menyentuh. Tangannya yang lembut menyatu dengan jemariku. Memberi energi dan semangat. Lalu tangannya meraih sebuah jilbab dari dalam tasnya. Jilbab itu berwarna coklat, diulurkan ke wajahku dan mengulur sampai ke bawah dada.

            “Kamu pake ini, ya. Biar kita bias reuni lagi di surga.”, katanya.

            Aku tersenyum romantis. Bahkan lebih romantis disbanding aku membalas senyuman seorang ikhwan murid Abah yang menjadi pemimpin ngaji Al-Kahfi setiap malam Jum’at.

            Ah, Mbak Aisy. Dia selalu membuat hatiku luluh dengan rayuannya.

            Aku memeluknya erat, lalu aku berjanji kepada diriku sendiri untuk tetap menjadi seperti ini. Bahkan lebih baik lagi.

            Aku menatap matanya dalam dan sealing bertukar senyum lama. Ternyata dari dia, aku mengerti bahwa hijrah tidak melulu tentang tempat, tetapi juga hati dan pikiran. Hijrah bukan selalu tentang perpindahan, tetapi juga perjuangan untuk sebuah pencapaian. Disini aku belajar berjuang, untuk melawan nafsu dan melawan egoku. Aku sedang hijrah dan berjuang menuju rumah.

            Rumah itu adalah hidayah.

            -------

Semoga cerita ini dapat membuat siapapun selalu rindu pulang J

 

You Might Also Like

0 komentar