A Story of Radit : Bitter Breakfast

Aku baru bangun tepat pukul tujuh setelah baru jam 2 dini hari aku merebahkan badan diatas kasur king bed yang masih sisa separuh lebih. Yang harusnya, perempuan berpipi chubby dan yang selalu membuat lelah kerjaku hilang itu menghilang untuk beberapa hari.

Aku tahu dia tak jauh-jauh dari sini.

Meja makan  kosong. Tanpa teh hangat yang biasanya sudah siap dan sepiring cookies hangat dari oven. Tanpa masakannya yang selalu membuat quality time sebelum kerjaku menjadi romantis. Sayangnya sudah tidak ada rutinitas itu.

Aku merasa kehilangan. Kehilangan semuanya, semua orang menyalahkanku, bahkan setelah aku memutuskan untuk tidak akan bertemu lagi dengan perempuan yang sempat menjadi orang kedua setelah istriku. Tapi, sayangku, meskipu  dia lebih menawan darimu, tetap au tak bisa membohongi semua perih setelah benar-benar kehilanganmu.

"Jangan ke kantor dulu."

Satu pesan singkat yang tak pernah kuduga datang dengan notifikasi vibrate diatas meja makan. Itukah kamu yang akan berjanji pulang ?

Kamu sudah menginjakkan kaki didalam rumah, tanpa kata, tanpa memencet bel disamping pintu. 

Dengan rinduku yang tak terelakkan, aku dengan mukaku yang belum kubasuh, dengan rambut yang masih acak-acakan, memelukmu erat. Namun kamu, sayangku, tidak lantas mengularkan tanganmu di pinggangku. Sebaliknya, kamu menolaknya seolah-olah kita adalah dua orang asing yang baru bertemu.

Satu patah dua patah kata kau utarakan lembut, masih dengan sikapmu yang santun, namun memekik.

"Aku pikir itu yang terbaik, Dit."
Hanya statement karena menurutmu itu yang terbaik lantas kau ingin setahun ini kita sudahi. Oh, mungkin aku trigger kesudahan ini. Ya, aku pelakunya, Jes.

Selembar kertas keputusan meja hijau mungkin apa yang kita sebut dengan 'terbaik'

"Mari belajar."
Lalu, kita berjalan di kesendirian masing-masing. Untuk berbenah, untuk siap lagi menerima hati yang baru. Untuk siap lagi menulis cerita yang kita harapkan kemadaniannya.


You Might Also Like

0 komentar