A Story of Jessica : Fingers Said Goodbye

his fingers fitted in mine, before he touched my cheeks affectionately
and I said so then,
we both said the same.
and we expected the same, to come back home


Sore itu, dibawah senja mega mendung.
Seseorang menatapku tenang, menunggu dan memastikan aku duduk di kursi dan gerbong yang tepat - dengan penuh bersahaja. Aku masih dapat melihatnya lewat jendela kusam kereta, diiringi senyum khasnya.
"Do you regret, Jes ?"
Pertanyaan yang membuat sekujur tubuhku dingin gemetar dan membuat lidahku kelu untuk menjawab - di sore hari, satu hari sebelum aku meninggalkannya.

"Never !"
Aku tidak akan pernah menyesal, Dit. Aku menjawab tegas untuk diriku sendiri. Memastikan bahwa aku baik-baik saja, tanpa dia. 

Satu pelukan hangat mengerat tubuhku. Bukan karena aku tak bisa mengelak, tapi tenaganya tak bisa kulawan.

Telingaku mendengar tulus sebelum aku secara tidak sengaja membasahi baju black-stripe nya dengan air mata, lalu hanya kelingking yang dia tawarkan sebelum jemarinya jatuh lagi diatas pipiku.

"Berjanjilah untuk pulang !"
Aku menjawab iya, tanpa suara. Dengan semenit dua menit lagi tanpa suara.
Hanya janji, janji untuk pulang.

Tapi detik ini, diatas sebuah kereta senja, aku bertekad untuk pergi - tanpa memaksakan untuk menepati janjiku.

Kita akan berpisah, sampai waktu yang tidak ditentukan, Dit.
Dan mungkin, kita akan kembali membawa janji kita yang sama. Mungkin.



You Might Also Like

0 komentar