A Story of Jessica : Dalam Hujan

Segelas coffe latte sempurna membuat mood ku bertambah. Seorang barista dengan penuh teliti dan professional meracik kopiku sempurna. Tidak terlalu panas, dengan dua pack gula yang selalu menjadi porsi andalanku.

Aku sedang mengasingkan diri. Membiasakan untuk tidak selalu menikmati kopi bersama Radit. Di sebuah villa dengan kafe romatis di sebuah bukit. Dingin. Sepi. Tanpa distraksi kecuali suara deru angin manja dan alunan musik jazz dengan  volume rendah. 

"Do you miss me, Jes?"

Satu pesan singkat masuk, membuat relaksasiku buyar. Lalu kusetting handphoneku menjadi flight mode untuk menghindari siapapun. Agar lebih tenang, tanpa telepon sampah - yang aku kira memang sampah untuk hanya sekedar menanyakan bagaimana pagiku. 

Kamu harusnya tahu apa jawabannya, Dit. Tentu jawabannya pagiku tidak seperti dulu. Tapi itu sudah menjadi konsekuensi atas kesalahanmu dan pelajaran bagiku agar bisa keluar dari zona kita - Aku dan Kamu. Aku sedang ingin menjadi aku seutuhnya.

Aku kira Radit tidak akan tahu posisiku saat ini. Agar dia tidak nekat untuk menghampiriku dan mengemis untuk terus bersamanya.

Sudah 4 hari, aku sedang di sebuah villa di Bandung. Dengan dingin dan ketenangannya. Aku hanya membutuhkan itu. Dan semua energi alam yang membuatku sadar, bahwa ada dunia yang harus aku lihat selain bersamamu.

Dia sedang menikmati hektiknya hidup di Jakarta. Tanpa kabarku, tanpa hadirnya diriku di depan kantor, menarkan payung, menembus hujan.

"Berjanjilah untuk pulang !"

Hanya 3 kata itu yang masih terngiang, di sebuah kafe, ditemani suara tuts dan sebuah kopi yang manis. Dalam hujan.

Jogja, on rainy days.
January, 21



You Might Also Like

0 komentar